Wajah Pluralisme Ompung Sabam Sirait

Laurencius Simanjuntak | Selasa, 18 Oktober 2016 19:10:24

Sabam Sirait (tengah) didampingi cucunya, Amaris Boru Sirait (kiri)/batakgaul
Sabam Sirait (tengah) didampingi cucunya, Amaris Boru Sirait (kiri)/batakgaul

Meski terlahir sebagai seorang Batak Kristen, politikus senior Sabam Sirait selalu bersikap inklusif dan menghargai perbedaan.

Pemikirannya tentang kebhinekaan dan pluralisme Indonesia sejak dulu telah membuat pergaulan politiknya menembus sekat-sekat agama dan kesukuan.

Hal itu bisa tampak dari perayaan HUT ke-80 Ompung Sabam di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (15/10). 

Dari seribuan tamu yang hadir, terdapat sejumlah pejabat negara dan tokoh-tokoh Islam. Sebut saja istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, mantan Ketua Umum Golkar Akbar Tandjung dan Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Kartika Nur Rakhman.

Sinta Nuriyah mengaku wajib hadir di perayaan HUT ke-80 Sabam Sirait. Sebab, suaminya Gus Dur bersahabat dekat dengan sesepuh dan pendiri PDI Perjuangan itu.

"Saya merasa harus hadir mengingat persahabatan Bapak Sabam suami saya Gus Dur,” kata Sinta yang datang ditemani putri sulungnya, Yenny Wahid.

Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di perayaan HUT ke-80 Sabam Sirait/batakgaul

Sinta mengenang, agama tidak menjadi pembeda Gus Dur dan Sabam dalam menjalani persahabatan.

 “Meski berbeda agama, keduanya dipertemukan dalam memperjuangkan demokrasi kebangsaan dan nasionalisme,” kata Sinta.

Akbar Tandjung mengaku sangat mengagumi Sabam sebagai seniornya di aktivis mahasiswa Cipayung. Di perkumpulan mahasiswa itu, Akbar aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), sedangkan Sabam di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Bagi Akbar, terpilihnya Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden ke-5 juga tak lepas dari peran pria kelahiran Tanjung Balai 13 Oktober 1936 itu.

“Saat itu Ibu Megawati menjadi presiden tidak lepas dari kiprah Bang Sabam Sirait,” kata Akbar.

Keluarga Besar Sabam Sirait/batakgaul

Menurut Akbar, Sabam adalah tokoh penting dalam fusi sejumlah partai nasionalis menjadi PDI pada 1973. 

“Saya akan belajar dari pengalaman yang Bang Sabam lakukan,” kata politikus senior Partai Golkar ini.

Tidak hanya dari tokoh yang hadir, penjaga keamanan di HUT ke-80 Ompung Sabam juga diisi oleh belasan anggota ormas Islam dari Barisan Serba Guna (Banser). Organisasi kepanduan Nahdlatul Ulama (NU) itu bekerja sama dengan Satgas PDI Perjuangan.

Maruarar Sirait bersama pasukan Banser NU dan Satgas PDI Perjuangan/batakgaul

Putra sulung Sabam, Maruarar Sirait megatakan, ayahnya memang sejak dulu mengajarkan bagaimana hidup dalam perbedaan dalam bingkai nasionalisme. Hal ini yang juga diakui Maruarar sebagai ideologi politiknya.

Papa tidak mewarisi harta atau kekayaan. Tapi  mewarisi nama baik,” ujar Ara, sapaan akrab politikus kelahiran Medan 46 tahun silam itu.