Ulos Bukan Hanya Lagi Warisan Batak, Melainkan Indonesia

Tuntun Siallagan | Selasa, 18 Oktober 2016 13:10:10

Pemeran ulos di Hari Ulos Nasional/batakgaul
Pemeran ulos di Hari Ulos Nasional/batakgaul

Setelah ulos ditetapkan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Nasional sebagai warisan budaya tak benda nasional pada 17 Oktober 2014, berarti kain tenun itu tak hanya lagi warisan budaya Batak. Akan tetapi sudah menjadi warisan budaya bangsa Indonesia.

"Jadi hari ini sebenarnya momentum bagi kita untuk mengetahui bahwa ulos bukan hanya milik orang batak saja, tapi sudah milik orang Indonesia," ujar Prof Dr Robert Sibarani MS dalam acara talkshow pada peringatan Hari Ulos Nasional 2016 di Medan, Sumatera Utara, kemarin.

Panitia acara yang diketuai Enni Martalena Pasaribu pun ke depan berupaya agar ulos tidak hanya menjadi warisan tak benda budaya Batak dan Indonesia, melainkan dunia. Pengusulan ini segera dilakukan panitia ke UNESCO.

Manortor sambil mengenakan ulos saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016/batakgaul

Menurut Robert Sibarani, ada lima hal yang perlu diperhatikan agar ulos bisa diterima sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh UNESCO, yakni menjadi penanda identitas; kedudukan ulos sebagai adat; adanya pencipta terus-menerus; keaslian; dan artikulasi hak asasi manusia.

"Jadi dalam ulos itu sebenarnya ada pertemuan antara kejiawaan, saya tidak mengatakan spirit, saya tidak mengatakan roh, tapi kejiawaan penenun dengan hasil tenunannya. Di situ hak asasi manusiannya," jelasnya.

Sementara pembicara kedua, Torang Sitorus yang merupakan penggiat ulos Indonesia menjelaskan bahawa, ulos merupakan warisan nusantara atau kain nusantara. Dan itu merupakan sama seperti kain Sunda, kain Palembang dan kain lainnya dari berbagai daerah di Indonesia.

"Jadi bukan bendanya yang akan diajukan ke UNESCO, tapi proses terciptannya sebuah ulos. Ada ratusan jenis ulos, tapi prosesnya yang sangat berharga," ujarnya.

Penenun (partonun) ulos kumpul di peringatan Hari Ulos Nasional di Medan/batakgaul

Ditambahkannya lagi, awalnya ulos digunakan sebagai penghangat badan dan belum digunakan untuk upacara adat. Tapi seiring berkembangnya jaman, ulos pun digunakan untuk acara adat seperti memberikan ulos Ragi Hotang kepada orangtua yang sudah mempunyai cucu dan Sadum kepada yang baru menikah. Hal itulah yang harus diakui dunia bahwa bangsa Batak adalah bangsa yang beradat.

Sedangkan  Wilmar Simanjorang, menekankan supaya pengerajin ulos tetap mempertahankan keaslian ulos itu sendiri sehingga mempunyai nilai yang mahal. Kemudian mempunyai roh dan tidak sembarang orang yang bisa mengenakannya.

"Bagaimana untuk pengrajin-pngerajin untuk melestarikan ini. Yang pertama harus kembali kepada bentuk yang asli. Makanya jangan murahan ulos," cetusnya.