Si Penulis 'Pancagila' Sahat Gurning Akhirnya Bebas

Jordan Silaban | Minggu, 07 Agustus 2016 07:08:04

Sahat Gurning dibebaskan/Facebook
Sahat Gurning dibebaskan/Facebook

Setelah ditahan lebih dari tiga bulan, Sahat Gurning (27) akhirnya bisa menghirup udara bebas. Putusan sela Pengadilan Negeri Balige pada 3 Agustus lalu, membebaskan mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) dari semua dakwaan jaksa penuntut umum.

"Salam hormat kepada seluruh rekan juang dan masyarakat yang merindukan keadilan. Pembebasan ini adalah fakta persidangan dan saya sangat menghargai peroses persidangan yang berlangsung,” tulis Sahat lewat akun Facebook-nya sehari setelah pembebasan, Jumat pekan lalu.

"Kemarin adalah pengalaman, hari ini adalah perjuangan dan esok adalah masa depan,” tulisnya lagi.

Surat pemebasan Sahat Gurning/FB

Sahat ‘dijemput' petugas Polres Toba Samosir (Tobasa) di rumahnya di Sosorladang, Desa Tangga batu I, Kecamatan Parmaksian, Tobasa, pada 12 April 2016 pukul 09.30 Wib atau tepat 27 bulan setelah postingan di akun Facebook-nya dianggap menghina lambang negara.

(BACA: Dua Tahun Setelah Sahat Gurning ‘menendang’ Garuda Pancasila)

Sahat mengunggah foto dirinya yang sedang menendang lambang negara pada sebuah mural di pinggir Jalan Paritohan, Kecamatan Pintupohan Maranti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa)

Tidak hanya itu, pada dinding akun Facebook-nya, Sahat juga menulis status yang tajam mengkritik kondisi negara.

“PANCASILA itu hanya ‘LAMBANG’ Negara Mimpi,” tulis Sahat kala itu.

“Yang benar adalah Pancagila:

1. Keuangan Yang Maha Kuasa;

2. Korupsi Yang Adil Dan Merata;

3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia;

4. Kekuasaan Yang Dipimpin Oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persekongkolan dan Kepurak-Purakan;

5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.

Semboyan: "BERBEDA- BEDA SAMA RAKUS.”

Postingan Sahat Gurning di Facebook.

Atas tindakannya itu, Sahat didakwa dengan Pasal 154 A KUHPidana dan Pasal 57 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

(BACA: 4 Alasan Orang Batak Banyak Berprofesi di Bidang Hukum) 

Namun, dalam persidangan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige menilai, dakwaan jaksa tidak disusun secara cermat, lengkap dan jelas. Baik mengenai tempus delicti, maupun kronologis 'cara' dan keadaan-keadaan yang melekat pada tindak pidana tersebut secara objektif.

Oleh karena itu, dakwaan jaksa dianggap obscur libeli (kabur) atau confuse (membingungkan) ataupun misleading (menyesatkan).