Sedihnya Martahan Sitohang Main Hasapi di Depan Jenazah Sang Ayah

Coky Simanjuntak | Rabu, 14 Juni 2017 20:06:34

Martahan Sitohang bermain hasapi di depan jenazah sang ayah/FB
Martahan Sitohang bermain hasapi di depan jenazah sang ayah/FB

Musik adalah doa. Itulah keyakinan Martahan Sitohang, yang baru saja ditinggal pergi sang ayah, Guntur Sitohang untuk selamanya.

Oleh karena itu, di hadapan jenazah ayahnya, Martahan memilih memanjatkan doa lewat petikan hasapi.

"Musik Adalah Doa. Semua orang yang berkunjung ke GubukMU merindukan HasapiMu,” tulis Martahan lewat akun Facebook-nya, Rabu (13/6).

Dalam foto yang diunggap Martahan, tampak dia sangat menghayati petikan hasapi yang dia mainkan di depan jenazah ayahnya yang sudah dibalut ulos.

Guntur Sitohang/FB

Postingan ini pun memicu komentar haru dari para teman musisi Batak ini.

"Sungguh indah musik yang kau persembahkan untuk mendiang ayahanda. Biar Musik menjadi doa untuk kemuliaan Tuhan menghantar kepergian Ayahanda ke pangkuanNya. Amin,” tulis Eni Agustien.

Seperti diberitakan, maestro Gondang Batak, Guntur Sitohang, berpulang ke pangkuan Bapa di Surga, Minggu (11/6). Meninggal di usia 80 tahun, totalitas hidup pria kelahiran Harian Boho, Samosir ini dipersembahkan untuk musik Batak.

Guntur bukan hanya pemain dan pencipta musik, namun juga pembuat alat-alat musik Batak. Dari istrinya Tiamsah Habeahan, yang sudah lebih dulu berpulang, Guntur memiliki 11 orang anak. Tiga di antaranya sudah dikenal luas di dunia musik Batak, yakni Martahan Sitohang, Martogi Sitohang dan Hardoni Sitohang.

Dari 11 anaknya, Guntur memiliki lebih dari 30 orang cucu.