Sadisnya Pembunuhan Parada Siahaan oleh Pengusaha Penunggak Pajak

Ester Napitupulu | Senin, 18 April 2016 06:04:16

Istri menangisi jenazah Parada Siahaan/Dok. Ditjen Pajak
Istri menangisi jenazah Parada Siahaan/Dok. Ditjen Pajak

Parada Toga Fransriano Siahaan kini sudah tiada. Dia tewas di tangan Agusman Lahagu, pengusaha karet yang ditagih pajaknya oleh Juru Sita Pajak Negara (JSPN) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sibolga tersebut.

Tidak hanya Parada, Lahagu juga menghabisi nyawa Sozanolo Lase, pegawai honorer di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) Gunungsitoli. Pembunuhan itu terjadi di samping gudang karet di Desa Hilihao, Km 5, Gunung Sitoli, Nias, Selasa 12 April lalu, sekitar pukul 11.30 WIB.

Dari hasil prarekonstruksi yang dilakukan polisi 14 April lalu, terungkap pembunuhan terhadap Parada sungguh keji dan sadis. Pembunuhan berawal saat Parada mengantar surat paksa atau surat teguran kepada Lahagu, yang menunggak pajak Rp 14 miliar.

Setelah menerima surat itu, Lahagu meminta Parada dan Sozanolo menunggu di samping gudang karet. Tak lama, Lahagu pun mendatangi keduanya.

Tak disangka kedatangan Lahagu itu juga mendatangkan petaka bagi keduanya. Tanpa banyak bicara, Lahagu langsung menikamkan pisau ke tubuh Parada, dan kemudian Sonazolo.

"Parada terjatuh ke tanah setelah kena tikam. Sementara Sonazolo Lase berusaha melarikan diri," kata Pejabat Urusan Hubungan Masyarakat Polres Nias Aiptu O. Daeli, dua hari setelah pembunuhan terjadi.

Sadisnya lagi, karena melihat Parada masih bergerak setelah ditikam, Lahagu mengambil bongkahan batu dan menghantamkannya ke kepala pria 30 tahun itu.

Karangan Bunga untuk mendiang Parada/facebook

Sementara Sonazolo mencoba kabur. Namun nahas, dia dikepung empat anak buah si tokek karet yang keluar setelah mendengar ada keributan.

"Keempatnya secara bergantian menganiaya Sonazolo hingga tewas," ujar Daeli.

Belakangan, empat anak buah Lahagu sudah ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana. Mereka adalah
Anali Zalukhu alias Ama Ana (17 tahun), Desama Lahagu alias Ama Dedi (22 tahun), Marwan Gulo alias Ama Rama (18 tahun) dan Bedali Lahagu alias ama Yusuf (43 tahun).

Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi mengatakan, Parada mengawali tugas di Direktorat Dirjen Pajak di KPP Pratama Rantau Prapat pada 29 Juni 2006. Sosok yang punya nomor induk pegawai (NIP)198601212006021003 itu pindah tugas ke KPP Pratama Sibolga pada 22 Oktober 2011.

Parada dan istrinya, Corry Grace Bunga Lubis/facebook

Di mata kawan-kawannya, Parada dikenal sebagai pribadi yang periang dan berjiwa sosial tinggi. Dalam beberapa kesempatan, lulusan terbaik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (Medan) tahun 2005 ini tak segan merogoh kantong untuk membantu pegawai honorer yang kesulitan keuangan.

Jenazah Parada tiba sehari setelah peristiwa nahas itu, Rabu (13/4). Jenazah disambut isak tangis oleh ratusan pelayat yang sudah menunggu di rumah duka di Komplek Pertamina, Blok III, No 4C, Jalan Air Bersih Ujung, Medan.

Bahkan, Corry Grace Bunga Lubis (28) terkulai lemas melihat suaminya sudah berada di dalam peti. Dia nyaris pingsan.

Kedatangan jenazah Parada dua hari setelah tragedi itu tak lepas dari penolakan keluarga atas tawaran autopsi oleh polisi. Keluarga beralasan, autopsi memerlukan waktu lama, sementara Parada akan dimakamkan pada sehari setelah jenazah diterima.

Dihadiri sejumlah pejabat daerah dan Ditjen Pajak, pemakaman Parada di TPU Patumbak, Jalan Turi, Medan, dipenuhi suasana haru.

Plt Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi yang hadir dalam pelepasan jenazah tersebut, mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya. "Semoga arwah jenazah Parada F Siahaan diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa," ujar Erry.