Ritus & Masakan Batak Ditetapkan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

Ester Napitupulu | Jumat, 28 Oktober 2016 14:10:01

Perayaan Sipaha Lima yang dilakukan Komunitas Parmalim, Huta Tinggi/Binsar Bakkar (sumataraimages.com)
Perayaan Sipaha Lima yang dilakukan Komunitas Parmalim, Huta Tinggi/Binsar Bakkar (sumataraimages.com)

Sebanyak 150 karya budaya dari 34 provinsi telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2016. Empat di antaranya berasal dari Provinsi Sumatera Utara, yang kebanyakan berasal dari budaya Batak.

Empat budaya tersebut yakni Sipaha Lima dan Erpangir Ku Lau yang termasuk adat istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Dua lainnya yakni Dayok Binatur dan Ni ‘Oworu yang merupakan kemahiran dan kerajinan tradisional.

Sipaha Lima adalah perayaan syukur bumi dan panen yang masih dilaksanakan Komunitas Parmalim yang berpusat di Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. 

Sementara Erpangir Ku Lau adalah salah satu ritus di dalam suku Karo. Erpangir berasal dari kata pangir, yang berarti mandi atau langir. Oleh sebab itu erpangir, artinya adalah mandi dan berlangir. 

Erpangir Ku Lau/karokab.go.id

Erpangir Ku Lau adalah lanjutan dari ritus maba anak ku lau (membawa anak turun mandi) dan juma tiga (upacara memperkenalkan anak kepada dasar pekerjaan tradisional Karo, yakni bertani).

Dayok Binatur adalah makanan adat Batak Simalungun yang  merupakan daging ayam masak yang diatur dalam piring lebar sesuai dengan bentuk ayam hidup (Dayok atur manggoluh).

Dayok Binatur/rosenmanmanihuruk.blogspot.co.id

Penyerahan Sertifikat Penetapan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia kepada 34 provinsi yang mengusulkan karya- karya budaya daerah menjadi warisan budaya Indonesia dilakukan di Jakarta,  Kamis (27/10).

Dengan demikian, total ada 474 karya budaya yang ditetapkan menjadi WBTB Indonesia. Perinciannya, 77 ditetapkan pada 2013, 96 WBTB pada 2014, serta 121 WBTB pada 2015. Karya budaya yang menjadi WBTB Indonesia berarti telah diverifikasi, diuji, dan dikaji keberadaannya.

Ketua Tim Ahli Penetapan WBTB Tety Pudentia menjelaskan, sidang penetapan berlangsung delapan bulan karena tim harus turun ke lapangan untuk memverifikasi karya budaya. Tim ahli juga meneliti naskah akademis dari pemerintah daerah.

SPONSORED
loading...