Ratusan Ton Bangkai Ikan Mas Ancam Wisata Danau Toba!

Jordan Silaban | Senin, 09 Mei 2016 03:05:59

Danau Toba/wikipedia
Danau Toba/wikipedia

Ratusan bangkai ikan mas dan nila yang mati karena kekurangan oksigen di kawasan Haranggaol Horison Kabupaten Simalungun, mengancam kelestarian Danau Toba. Pemerintah diminta cepat menyelesaikan masalah tersebut.

"Bangkai ikan nila dan emas hasil budidaya keramba jaring apung (KJA) milik warga itu, bisa saja menimbulkan pengaruh bagi kelestarian air Danau Toba," ujar Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara (Sumut), Kusnadi di Medan, seperti dikutip Antara, kemarin.

Menurut Kusnadi, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun dapat mengatur warganya yang memanfaatkan kawasan perairan Danau Toba tersebut untuk beternak ikan.

"Sebab, air Danau Toba itu dapat mengalami penurunan kualitas dengan adanya peternakan ikan yang dikelola masyarakat sebagai mata pencarian mereka," ujar Kusnadi.

Dengan pengaturan tersebut, kata dia, diharapkan program pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi pariwisata internasional, tidak terganggu.

Menurut dia, kondisi ikan mati akan merugikan negara dan Pemerintah Provinsi Sumut karena dapat mengurangi kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke Danau Toba. Apalagi, kawasan Danau Toba tersebut juga akan dijadikan sebagai "Monaco of Asia".

Kusnadi menambahkan wisatawan dari berbagai negara di dunia akan merasa enggan untuk liburan ke Danau Toba kalau air danau terbesar di Asia Tenggara itu tidak sehat, berbau amis akibat ratusan ton bangkai ikan.

"Hal ini harus menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten yang wilayahnya meliputi sebagian Danau Toba, agar tidak lagi memberikan izin KJA," katanya.

Selain itu, pemerintah diharapkan tidak lagi memperpanjang izin budi daya tambak ikan berskala besar di Danau Toba yang dilakukan sejumlah perusahaan.

"Danau Toba yang menjadi tujuan wisatawan internasional itu, harus benar-benar bersih dari budi daya ikan keramba.Dan tamu-tamu dari negara asing itu menginginkan objek wisata yang bersih," kata pemerhati lingkungan di Sumut itu.

Sebelumnya, Tim Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan memastikan kematian ratusan ton di perairan Danau Toba kawasan Haranggaol Horison akibat kekurangan oksigen.

Tim yang dipimpin Prof Dr Drs Krismono MS dari Balai Penelitian Pemulihan dan Konservasi Sumberdaya Ikan (BP2KSI) Kementerian Kelautan dan Perikanan melakukan penelitian langsung di lokasi kasus.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun, Jarinsen Saragih mengatakan penelitian penyebab kematian ikan tersebut sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah setempat.

"Perlu dipastikan supaya jelas dan tidak menjadi spekulasi yang menyesatkan di masyarakat," ujar Jarinsen.

Ia menyebutkan yang diteliti kualitas air dan ikan. Ikan mas dan nila di keramba tersebut kekurangan oksigen karena jumlah populasi tidak sesuai dengan luasan area.

Menurut Jarinsen, idealnya satu meter kubik per satu kilogram ikan, sedangkan di perairan ini mencapai kira-kira 6.000-an lebih keramba jaring apung.

BACA JUGA
  • DANAU TOBA Jokowi Perlebar Jalan Lingkar Samosir Hingga 14 Meter!

  • DANAU TOBA Pantai Pangkodian, Hamparan Pasir Putih Tersembunyi di Danau Toba

  • DANAU TOBA Hotel di Kawasan Otorita Danau Toba untuk Pasar Kelas Atas

  • DANAU TOBA Ditemukan di Palung Danau Toba, Enjelika Sudah Tak Bernyawa