PGI: Menjadi LGBT Bukanlah Dosa

Maruli Simarmata | Kamis, 30 Juni 2016 08:06:28

Ilustrasi LGBT/blogspot
Ilustrasi LGBT/blogspot

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) memiliki pandangan yang cukup progresif terkait fenomena Lesbian, Gay, Bisexual dan Transgender (LGBT). 

Organisasi yang terdiri dari 89 gereja termasuk Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini menyatakan,  menjadi LGBT, apalagi yang sudah diterima sejak lahir, bukanlah suatu dosa. 

“Karena itu kita tidak boleh memaksa mereka bertobat,” demikian pernyataan pastoral PGI tentang LGBT yang ditandatangani Ketua Umum Henriette T Hutabarat Lebang dan Sekjen Gomar Gultom, pada 28 Mei lalu. 

"Kita juga tidak boleh memaksa mereka untuk berubah, melainkan sebaliknya, kita harus menolong agar mereka bisa menerima dirinya sendiri sebagai pemberian Allah.”

Pandangan PGI ini dihasilkan setelah mempertimbangkan hasil-hasil penelitian mutakhir dalam bidang kedokteran dan psikiatri yang tidak lagi memasukkan orientasi seksual LGBT sebagai penyakit, sebagai penyimpangan mental (mental disorder) atau sebagai sebuah bentuk kejahatan. 

"Pernyataan dari badan kesehatan dunia, WHO, Human Rights International yang berdasarkan kemajuan penelitian ilmu kedokteran mampu memahami keberadaan LGBT dan ikut berjuang dalam menegakkan hak-hak mereka sebagai sesama manusia." 

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) mengacu pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi II tahun 1983 (PPDGJ II) dan PPDGJ III (1993) bahwa LGBT bukanlah penyakit kejiwaan. 

"LGBT juga bukan sebuah penyakit spiritual.” 

(BACA: Ini Pernyataan Lengkap Pastoral PGI tentang LGBT)

Surat Pengantar Pernyataan Pastoral PGI tentang LGBT

Dalam banyak kasus, kecenderungan LGBT dialami sebagai sesuatu yang natural yang sudah diterima sejak seseorang dilahirkan; juga ada kasus-kasus kecenderungan LGBT terjadi sebagai akibat pengaruh sosial. 

"Sulit membedakan mana yang natural dan mana yang nurture oleh karena pengaruh sosial. Meskipun demikian, bagi banyak pelaku, kecenderungan LGBT bukanlah merupakan pilihan, tetapi sesuatu yang terterima (given).”

Oleh karena itu, gereja, sebagai sebuah persekutuan yang inklusif dan sebagai keluarga Allah, harus belajar menerima kaum LGBT sebagai bagian yang utuh dari persekutuan kita sebagai “Tubuh Kristus”.

"Kita harus memberikan kesempatan agar mereka bisa bertumbuh sebagai manusia yang utuh secara fisik, mental, sosial dan secara spiritual."