Pesta Gotilon, Menyerahkan Hasil 'Panen' ke Hadapan Tuhan

Ester Napitupulu | Minggu, 27 November 2016 09:11:41

Ilustrasi Pesta Gotilon/hkbpmentenglama.blogspot.co.id
Ilustrasi Pesta Gotilon/hkbpmentenglama.blogspot.co.id

Di penghujung tahun ini, banyak terdengar istilah ‘Pesta Gotilon’ yang dilakukan oleh orang Batak. Dalam pesta yang digelar di gereja tersebut, mereka memberikan persembahan kepada Tuhan.

Lalu apa sebenarnya Pesta Gotilon? Menurut Kamus Batak Toba Indonesia, gotilon berarti panen, yang berasal dari kata ‘gotil’ (mencubit). 

Mungkin saat musim panen dahulu kala, masyarakat Batak belum mempunyai alat 'anai-anai' yang jika dipakai memang persis seperti orang sedang mencubit atau ‘ manggotil’. 

Dalam Pesta Gotilon (panen) ini, masyarakat Batak memberikan persembahan sebagai ucapan syukur atas hasil panen mereka. 

Dalam tradisi gereja Batak, seperti HKBP, Pesta Gotilon sudah dilembagakan dan dilaksanakan setahun sekali. Dalam pesta tersebut, satu per satu jemaat datang ke altar untuk menyampaikan persembahan dengan diiringi gondang dan tortor, tentu dengan memakai ulos.

Menurut Pdt Henri Butar-butar, tradisi pesta Gotilon Huria yang dilaksanakan oleh Gereja HKBP adalah kesadaran akan berbagai pemberian yang baik dan anugerah yang sempurna semata-mata bersumber dari Tuhan. 

“Dengan dasar itulah kita disadarkan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan,” kata pendeta HKBP ini lewat blognya.

Namun demikian, kata Henri, persembahan dalam Pesta Gotilon ini tidak harus dimaknai sebuah kewajiban.

“Persembahan lebih merupakan wujud/ekspresi dari hati yang bersyukur atas kasih Allah yang melimpah,” ujarnya.

Dulunya, karena hampir semua masyarakat Batak adalah petani, persembahan dalam Pesta Gotilon ini berupa hasil tani, seperti gabah, buah-buahan dan sebagainya. Namun, di zaman yang telah berkembang ini, supaya lebih praktis, persembahan biasanya kini dalam bentuk uang.