Pers Batak: Dari Masa ke Masa

Hotman J Lumban Gaol | Kamis, 09 Februari 2017 12:02:41

Headline 'Soara Batak' dan 'Boroe Tapanoeli'
Headline 'Soara Batak' dan 'Boroe Tapanoeli'

Karena tak ada pihak yang memilki keteguhan hati untuk mempertahankannya. Pemerintah juga tidak. 

Sebenarnya, eksistensi bahasa daerah punya peluang yang cukup untuk tetap hidup apalagi kalau dilihat adanya ketentuan bahasa daerah masuk dalam kurikulum. Amat disesalkan, di sekolah dasar bahasa daerah hanya diajarkan sebagai embel-embel kurikulum. 

Dari bangku sekolah bahasa ibu akan hilang. Lonceng kematiannya sayup-sayup tapi sudah terdengar. Aksara Batak, yang dulu dipelajari, sekarang sudah dilupakan. 

Keadaan seperti ini sudah tentu menempatkan pers berbahasa daerah tak mungkin hidup, karena tak punya akar untuk bertahan, apalagi terhadap terpaan budaya semesta, hantaman globalisasi Pers Batak Dalam Pers Nasional Tidak terlalu membesar-besarkan, namun pada kenyataannya pers memang telah memainkan perannya yang terpenting: membawa pencerahan bagi peradaban modern bangsa Indonesia. 

Dalam kerangka berpikir sebagai satu bangsa, pers daerah telah mengambil bagian utama dalam membangun kesadaran nasional. Dalam catatan sejarah nasional, peran pers daerah kelihatannya belum memperoleh sorotan yang memadai. 

Jejak sejarah pers di Sumatera Utara, misalnya, masih belum tersingkap dengan lebih utuh. Padahal, nun jauh di sana, di dalam batang tubuh pers daerah itu, tersimpan benih semangat untuk mencapai kemerdekaan, walau tak segegap-gempita dan meluas seperti di tanah Jawa. 

Kalau boleh, ambillah contoh yang sederhana. Kata ”Merdeka” sudah dipilih sebagai motto yang menjadi simpul bagi sebuah cita-cita oleh koran “Benih Merdeka” yang terbit di Medan tahun 1916. 

Dalam semboyannya, “Benih Merdeka” menyatakan diri sebagai koran “Orgaan Oentoek Menoentoet Keadilan dan Kemerdekaan.” Pada September 1919, koran tersebut memuat pantun seorang penulis dengan nama samaran Van Arde. 

Pantun itu, ketika itu, dengan gagah berani menolak penjajahan dan berseru: ”Hindia bukan tanah wakaf, Hindia bukan nasi bungkus, Hindia bukan rumah komedi.” 

Berbagai suratkabar bisa ditemukan di Sumatera Utara, terutama di Medan. Selama periode 1885-1942 terdapat 133 media cetak yang terbit di wilayah tersebut. Termasuk di antaranya media Belanda yang bernama “Deli Courant,” yang dikuasai Jacques Deen, seorang miliuner tembakau Deli. 

Lalu, ada nggak media yang terbit di Tanah Batak?