Perlawanan Perempuan Batak Demi Hutan Kemenyan

Coky Simanjuntak | Senin, 16 Januari 2017 09:01:33

Pohon kemenyan dan Rusmedia Lumbangaol/batakgaul
Pohon kemenyan dan Rusmedia Lumbangaol/batakgaul

Sifat pemberani Rusmedia Lumban Gaol (61) sudah tampak sejak dia remaja. Pernah suatu ketika saat berusia 14 tahun, bapaknya ditangkap petugas karena dituduh mencuri kayu.

Padahal, kayu untuk membangun rumah itu diambil dari hutan adat milik leluhurnya sendiri di Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara.

“Melihat bapakku ditangkap, saya menangis, dan maaf, saya membuka baju, hanya pakai celana pendek,” ujar Rusmedia kepada batakgaul.com, belum lama ini.

Ternyata tangis dan tindakan Rusmedia itu bukanlah tanda menyerah. Dia justru semakin menyalak.

“Ke sini kau. Biar kumatikan kau!” teriak Rusmedia kepada penangkap bapaknya. 

“Sudah kurampas tas mereka, bapakku dilepaskan,” kisa Rusmedia.

Keberanian Rusmedia 47 tahun silam itu ternyata tak pernah surut. Meski kini sudah beranak 12 dan bercucu puluhan, perempuan tak tamat sekolah dasar ini justru paling getol memperjuangkan hak atas hutan adat yang masuk areal konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL).

Menurutnya, sejak perusahaan penghasil bubur kertas itu masuk pada 2009, perekonomian 770 KK di Desa Pandumaan dan Desa Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbahas, memang terus merosot.

“Sebenarnya kita gak kuat waktu demo, apalagi aku, sekolah enggak ada. Tapi kita tidak boleh kehilangan kemenyan, kedatangan TPL membuat kami hancur,” kenang Rusmedia.

Kini 5.172 ha hutan adat milik warga Pandumaan-Sipituhuta memang sudah dikeluarkan dari areal konsesi PT TPL, lewat SK Menteri Kehutanan yang diserahkan langsung oleh Presiden Jokowi pada 30 Desember 2016 lalu. 

Rusmedia Lumban Gaol (kedua dari kanan) bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jumat (30/12).

Namun, kemerosotan ekonomi keluarga akibat perampasan hutan adat yang berisi kemenyan itu jelas masih terasa. 

“Karena kalau ekonomi keluarga merosot, yang paling merasakan kehancuran adalah perempuan di dapur dan anak-anaknya,” tegas Rusmedia.

Sahat Sinambela (74), suami Rusmedia, mengatakan sebelum TPL masuk, keluarganya memiliki sekitar 10 hektar hutan kemenyan.

“Perkiraan sisa 5 sampai 6 hektar, yang dibabat sekitar 5 hektar,” ujar Sahat.

Kemenyan memang menjadi mata pencaharian utama warga Pandumaan-Sipituhuta. Sebab, tanaman endemik ini memiliki getah yang bernilai sebagai bahan baku dupa, kosmetik, parfum dan sebagainya.

“Dulu kalau disigi, satu pokok (kemenyan) dapat 1 kg (getah). Kalau sekarang 1 ons pun belum pasti,” ujar Sahat.

“Ini bukan omong kosong,” tegasnya.

Sahat menjelaskan, kemenyan (haminjon) jadi susah mengeluarkan getah karena kayu alam yang berada di sekitarnya sudah ditebangi. 

Pengakuan Sahat ini sejalan dengan data Forest Watch Indonesia (FWI) bahwa pada 2013-2016, hutan alam yang hilang dari konsesi perkebunan kayu di Sumatera Utara dan Riau, adalah seluas 208.315 hektar. 

Menurut FWI, PT TPL menyumbang 2 persen hilangnya hutam alam tersebut. 

“Jadi yang melestarikan hutan sebenarnya kita, karena kayu alam harus ada di sekitar kemenyan,” ujar Sahat. 

Namun, dalam website resminya, PT TPL membantah merusak alam di sekitar 190 hektar areal konsesinya. Mereka mengatakan hanya menggunakan 40 dari 70 persen dari yang diizinkan demi menjaga kelestarian hutan.

Perempuan di Depan

Dalam perjuangan menuntut pengembalian hak hutan adat, Sahat mengatakan bersama kaum bapak Pandumaan-Sipituhuta sengaja berada di barisan belakang. 

Sementara, Rusmedia dan ratusan kaum ibu berada di depan. Misalnya, saat mereka berdemonstrasi ke kantor-kantor pemerintahan daerah.

“Karena kalau hanya laki-laki yang berjuang, pasti dimatikan. Kalau menangkap kami (perempuan), mereka gak berani,” timpal Rusmedia.

Kaum perempuan di barisan depan perjuangan mempertahankan kemenyan itu seakan bukan kebetulan jika melihat mitos di balik tanaman yang cuma tumbuh di Sumut ini.

Tetua adat warga Pandumaan-Sipituhuta, Mangasal Lumban Gaol (68), bercerita konon pohon kemenyan hadir karena adanya kemiskinan.

“Putrinya (si miskin) dikasih ke orang berada, padahal dia gak suka. Larilah putri ini ke hutan, dan meninggal di situ, akhirnya tumbuhlah kemenyan,” ujarnya.

Pohon kemenyan juga keramat bagi warga Pandumaan-Sipituhuta. Oleh karenanya, mereka wajib melakukan ritual sebelum mengolah pohon mistik tersebut.

“Pakai ritual, mau agama apapun. Karena ritualnya ini minta sama Tuhan juga, Mula Jadi Na Bolon,” ujar ompung pemuka agama Katolik ini.

Kini, setelah 7 tahun, perjuangan perempuan-perempuan kemenyan ini telah membuahkan hasil. Rusmedia dkk menjadi saksi pengakuan hutan adat peninggalan leluhur mereka oleh negara, dengan menerimanya langsung dari Presiden Jokowi di Istana Negara, 30 Desember 2016 lalu.

“Saya lahir di hutan, besar di hutan, akan berjuang dengan hutan,” kata Rusmedia.