Perkenalkan Prof Harun Rasyid Lubis, 'Bapak Ginjal' Kota Medan

Jordan Silaban | Sabtu, 08 Oktober 2016 15:10:38

Prof Harun Rasyid Lubis/blogspot
Prof Harun Rasyid Lubis/blogspot

Pakar kesehatan Prof dr Harun Rasyid Lubis, SpPD-KGH diberi gelar sebagai "Bapak Ginjal Kota Medan" karena telah lama mendedikasikan ilmu pengetahuannya untuk pengobatan penyakit ginjal.

Penghargaan dan gelar itu diberikan Wali Kota Medan Dzulmi Eldin dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan dan Konferensi Kerja Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PIT-KONKER PERNEFRI) 2016 di salah satu hotel berbintang di Medan, kemarin.

Dalam pemberian gelar itu, Wali Kota Medan Dzulmi Eldin mengatakan, Prof Harun Rasyid Lubis selama ini fokus dan memiliki keseriusan tinggi dalam mendedikasikan pengetahuannya untuk pengobatan ginjal.

Prof Harun Rasyid Lubis yang menjabat sebagai Koordinator Wilayah PERNEFRI Sumut-Aceh itu sudah cukup lama berdedikasi dalam memberikan pelayanan terbaik dalam dialisis di Kota Medan.

Bahkan pria yang berusia 78 tahun tersebut ikut memperjuangkan kehadiran fasilitas hemodialisis di Kota Medan.

(BACA: Inilah Ompung Pantur Silaban, 'Einstein' dari Tano Batak)

Dengan berbagai dedikasi yang ditunjukkan selama puluhan tahun, terutama dengan keseriusannya dalam pengobatan penyakit ginjal, sangat wajar jika Prof Harun Rasyid mendapatkan gelar sebagai "Bapak Ginjal Kota Medan".

"Beliau bukan dokter baru, tetapi sudah lama. Bahkan beliaulah yang mendirikan pelayanan dialisis yang menangani pasien ginjal di Sumut. Sudah sepantasnya kita memberikan penghargaan ini," katanya.

Prof Harun Rasyid Lubis (tengah) bersama para tenaga kesehatan/FB: Beni Satria

Mendapatkan pengharaan dan gelar tersebut, Prof Harun Rasyid mengaku merasa bangga dan terharu atas apresiasi Pemkot Medan dan kalangan medis lainnya.

Dengan alasan sebagai panggilan jiwa dan upaya menjaga kesehatan ginjal masyarakat, ia mengaku tidak pernah lelah dalam mengembangkan dialisis di Sumut dan Aceh.

"Dari dulu saya bekerja dengan ikhlas, tidak mengharapkan apa-apa. Cuma mengharapkan 'support' dan bantuan sarana dan prasarana dalam mengembangkan pelayanan dialisis,” katanya.

Namun, kata dia, pihak yang paling bahagia dengan penghargaan tersebut adalah para perawatnya yang selama ini setia mendampinginya dalam menangani pasien ginjal.

(BACA: Tokoh-tokoh Batak Penentang Soeharto)

Prof Harun Rasyid menjelaskan, pelayanan hemodialisis telah hadir di Kota Medan, khususnya di RSU Pirngadi Medan sekitar 40 tahun lalu.

Ia mengaku masih mengingat betul tentang mesin untuk pengobatan ginjal pertama di RSU Pirngadi Medan tersebut yang merupakan pemberian ibu negara yakni Siti Hartinah atau Ibu Tien Soeharto.

"Waktu itu, saya kebetulan baru pulang dari Belanda menuntut ilmu tentang ginjal dan dialisis. Saya masih ingat pasien pertama saya orang Karo bermarga Sembiring, pasien saya ini mendapat perawatan di Rumkit Kodam tapi dirujuk ke RSU dr Pirngadi Medan," katanya.

Sebelumnya, kata Harun, banyak penderita ginjal di Kota Medan yang tidak bisa berobat karena kurangnya fasisiltas kesehatan yang memadai.

Bahkan, salah seorang teman kuliahnya ada yang meninggal karena penyakit ginjal. "Saat itu, memang belum ada hemodialisis," katanya.

 

SPONSORED
loading...