Perjuangan 30 Tahun Togu Sinambela, Pelukis dan Pengukir Batak

Tuntun Siallagan | Senin, 05 Desember 2016 08:12:39

Togu Sinambela/batakgaul
Togu Sinambela/batakgaul

Dua buah ukiran patung terlihat bertengger di depan rumah yang teduh itu. Satu sudah rampung, sementara satu lagi masih dalam proses pembuatan. 

Sementara di sebelah kiri rumah, beberapa lukisan tampak berjejer menempel di dinding. 

Pandangan menarik ini tersaji di rumah Medan Seni bernama 'Payung Teduh’ di Jalan Sei Bingei No. 1, Kelurahan Sei Sikambing, Kecamatan Medan Petisah, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (4/12).

"Silahkan duduk," ujar Togu Sinambela, sang tuan rumah, ketika mengetahui kedatangan batakgaul.com.

Togu adalah seorang pelukis dan juga pengukir yang sudah menekuni profesinya ini sejak 30 tahun yang lalu. 

Bakat seni pria kelahian 7 Januari 1965 ini dikembangkan ketika dia masih duduk di bangku kuliah jurusan Seni Rupa di IKIP Medan (sekarang Universitas Negeri Medan) pada 1984.

"Ayah saya seorang pegawai. Tidak ada terinspirasi dari siapa. Saya mulai menekuni pekerjaan ini ketika duduk di bangku kuliah," ujarnya mengisahkan awal mula memutuskan menggeluti dunia seni.

Sepanjang perjalanan berkarya, pria yang memiliki nama lengkap Togu Parulian Sinambela ini sudah menghasilkan ratusan lukisan. Begitu juga dengan puluhan patung ukiran yang sudah terjual entah ke mana saja.

Togu Sinambela di Payung Teduh/batakgaul

Dalam proses melukis, Togu Sinambela mengaku memang tidak selalu fokus kepada objek budaya Batak.

"Lukisan itu ada dua, pertama lukisan figur dan yang kedua lukisan yang bersifat abstrak. Yang pertama jelas mempunyai pola ataupun objek, kalau yang kedua tergantung kita, soal apa maksud dari lukisannya apa, itu tergantung yang melihat yang menafsirkannya," ujarnya.

Terkadang ketika melukis, Togu kembali mendapatkan inspirasi yang lain. Saat itu pulalah dia harus melukiskannya kembali di kanvas yang berbeda.

"Contoh kalau melukis suasana di kampung. Kita buat ada beberapa orang lukisan di dalamnya. Tapi di lain sisi, kita melihat lukisan itu akan semakin indah bila lukisan orangnya ditambahi. Di situlah kita kembali melukisnya di kanvas yang berbeda," tambahnya.

Sementara saat mengamati beberapa lukisan di Payung Teduh, banyak lukisan yang bernuansa Batak. Salah satu contoh adalah lukisan Sigale-gale. 

Patung berbahan kayu juga terlihat cukup menarik, yakni sepeti kepala Babi yang bagian belakanya juga diukir seperti wajah.

"Kalau orang Batak, pasti tau cerita mengenai Babiat," ujar Togu ketika ditanya inspirasi mengenai pembuatan patung tersebut.

Tidak Harap Pemerintah

Payung Teduh yang menjadi rumah inspirasi Togu telah berdiri 15 tahun lalu. Selain dia, ada empat seniman lain yang selalu mendiami rumah Payung Teduh setiap harinya, yakni Cecep Priono, Alwan Sanrio, Wan Saat dan Sandi. 

Mereka bukan berasal dari Sumatera Utara saja. Ada yang datang dari luar daerah, misalnya Tanah Toraja.

"Kami di sini ada lima penggiat seni yang selalu berkarya. Kalau saya sendiri sudah ada ratusan lukisan dan puluhan ukiran yang sudah tercipta," ujarnya.

Sejak memutuskan untuk menekuni dunai seni, Togu mengaku butuh perjuangan yang lebih untuk sekadar bertahan. Sebab masih banyak orang yang belum menghargai pekerja seni. Padahal seni itu menurutnya adalah sebuah nilai yang sangat mahal.

"Kita menjual hasil karya memang sendiri-sendiri. Kalau soal harga, ya, tergantung. Yang pasti seni itu mahal," ujar pria yang menikah dengan Boru Sihombing ini.

Togu Sinambela di Payung Teduh/batakgaul

Beberapa tahun yang lalu, Payung Teduh memang kerap mengadakan  pagelaran di tempat mereka. Tapi karena keterbatasan biaya, setelah tahun 2011, kegiatan pameran tahunan itu sudah tidak pernah diselenggarakan lagi.

Pameran di beberapa tempat melalui kegiatan pun menurutnya tidak cukup relevan untuk menjual hasil karya mereka. Dikatakannya, beberapa waktu yang lalu, dia pernah mengikuti acara pameran yang diadakan penggiat seni di Provinsi Jambi, tapi kegiatan itu malah membuatnya rugi.

"Sebagai penggiat seni, kalau ada pameran, tentu ada harapan kita. Tapi itu tidak menjamin bermanfaat buat kita, karena saya pernah merasakan dan yang didapat hanya capek membawa karya-karya saja," terangnya.

Meskipun kondisinya seperti itu, Togu tidak pernah berharap kepada pemerintah. Dia beranggapan bahwa pemerintah juga memiliki banyak hal yang harus dikerjakan.

"Kalau sama pemerintah tidak ada harapannya. Mungkin mereka juga banyak pekerjaannya. Sama seperti kita," pungkasnya.

Dikisahkannya, beberapa tahun yang lalu, memang ada pernah perwakilan pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang datang menemuinya. Tapi karena tawaran mereka yang begitu minim untuk menghargai penggiat seni lukis, dia pun langsung menolaknya.

"Sekali lagi seni itu mahal. Dan kita tidak perlu berharap. Lagian pemerintah tidak ada khusus yang menangani penggiat seni. Dinas parawisata dan kebudayaan itu beda dengan seni," tambahnya.

Boru Sang Penerus

Meski hidup dalam kesederhanaan, Togu mengaku cukup menikmati kehidupan bersama keluarganya. Walaupun penghasilan tidak selalu pasti seperti profesi lain, tapi dia bersyukur telah berjuang di dunia seni.

"Saya tidak pernah berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Bahkan saya yang mengajak teman-teman untuk menjadi seniman. Teman-teman seangkatan saya banyak yang jadi guru. Enak memang, karena sudah mempunyai penghasilan tetap, bahkan pensiunan juga sudah ada. Guru itu sudah di tangan, tapi seniman adalah perjuangan," ujarnya tegar.

Walaupun bekerja di bidang seni penuh dengan perjuangan, sang istri, Lince boru Sihombing selalu setia menemani kehidupannya. Dia yakin, sang istri justru jatuh cinta terhadapnya beberapa tahun lalu juga karena profesi yang dia geluti. 

"Jadi sama-sama menikmati,” ujarnya.

Togu Sinambela/batakgaul

Setelah lama membangun rumah tangga dengan boru Sihombing, Togu kini sudah memiliki penerus. Namanya Maloni boru Sinambela, yang saat ini tengah duduk di bangku kelas 5 SD.

"Dari TK boru saya sudah rajin melukis. Mungkin karena faktor lingkungan. Dan dia menyuruh supaya karya-karyanya juga dipajang di dinding. Jadi kalau datang teman saya, dia bilang, 'Ompung, ini lukisanku, aku juga seniman'," ujar Togu menirukan ucapan anaknya sembari menunjukkan lukisan Maloni yang terpajang di dinding.

Togu mengaku tidak mengharuskan sang anak untuk mengikuti jejaknya sebagai penggiat seni, kendati dia sudah melihat bakat itu pada putrinya sejak kecil. 

Togu berjanji tetap akan membebaskannya putrinya sematawayangnya kelak untuk memilih profesi lain yang menurutnya baik setelah dewasa.