Pedagang Lapo Batak Senayan Bingung Alasan Penutupan Berubah-ubah

Coky Simanjuntak | Rabu, 18 Januari 2017 18:01:29

Lapo Siagian Boru Tobing/batakgaul
Lapo Siagian Boru Tobing/batakgaul

Pujasera yang sudah terkenal diisi lapo-lapo penjual masakan khas Batak di kawasan Senayan, Jakarta, segera ditutup.

Para pedagang tidak hanya kaget dengan perintah pengosongan yang sangat mendadak, tetapi juga alasan penutupan oleh Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPKGBK) yang berubah-ubah.

“Kepala unitnya bilang untuk gudang, sementara direktur umumnya bilang untuk fasilitas penunjang Asian Games. Jadi berubah-ubah alasannya,” kata Paulus Siagian, pengelola Lapo Siagian Boru Tobing, saat berbincang dengan batakgaul.com, Selasa (17/1).

Belum lagi, kata Paulus, para pegadang juga pernah mendapat informasi bahwa lahan yang tak lebih dari 2.000 meter persegi itu akan dialihkan ke pihak swasta.

“Karena kalau untuk penunjang Asian Games memang lahan tak lebih 2.000 meter persegi ini buat apa? Terlalu kecil,” kata Paulus yang merupakan generasi kedua pemilik lapo yang menempati lahan sejak 1992 ini.

(BACA: 25 Tahun Berdiri, Lapo-lapo Batak di Senayan Diminta Hengkang)

Oleh karenanya, kata Paulus, para pedagang meminta PPKGBK untuk meninjau ulang penutupan. Dia berharap pihak PPKGBK menyediakan tempat untuk relokasi.

“Kita juga siap ditata, kalau seandainya bangunan mau dirapihkan dan siap dinaikkan harga sewanya asalkan wajar,” kata Paulus.

Namun, seperti dikutip kompas.com, Direktur Utama PPKGBK, Winarto, mengatakan, lahan Pujasera nantinya akan dibangun fasilitas latihan (training facilities). 

Adapun bentuk fasilitas yang dimaksud, menurut Winarto, bisa jadi semacam tempat kebugaran atau yang lainnya.  “Fasilitas penunjang itu bisa banyak ragam,” ujarnya.

Seperti diberitakan, PPKGBK tidak akan memperpanjang sewa lahan tepat di belakang Gedung MPR/DPR yang sudah 25 tahun digunakan para pedagang.

Informasi penutupan itu sampai kepada para pedagang melalui surat pada 22 November 2016 yang ditandatangani oleh Kepala Unit II PPKGBK Zainur Arifin. Pedagang diminta mengosongkan lahan pada 16 Desember 2016

Namun, lewat surat kedua dan sejumlah komunikasi informal, pedagang diminta mengosongkan lahan terakhir pada 28 Februari 2017.

Para pedagang protes karena perintah pengosongan yang sangat mendadak.

“Saya lihat undang-undang, itu minimal kalau sewa perintah pengosongan 1 tahun,” ujar Firman Saragih, pengelola Lapo Ni Tondongta.