Otorita Danau Toba: Konsultan Singapura, Isinya Indonesia

Alex Siagian | Minggu, 12 Februari 2017 21:02:20

Kepala BODT Arie Prasetyo/FB
Kepala BODT Arie Prasetyo/FB

Badan Otorita Danau Toba (BODT) menjawab sejumlah kritik terkait ditunjuknya Aedas, konsultan dan perencana arsitektur asal Singapura, untuk merancang kawasan wisata otoritatif di Sibisa, Kabupaten Toba Samosir.

Menurut Kepala BODT, Arie Prasetyo, walau Aedas merupakan perusahaan Singapura, di dalamnya banyak orang-orang Indonesia.

"Jadi sebenarnya hanya (perusahaan) konsultannya yang dari Singapura, namun di dalamnya orang-orang Indonesia juga. Jadi brandingnya Singapura, isinya Indonesia," ujar Arie kepada batakgaul.com usai  peresmian kampung adat di Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir, Sabtu (11/2).

Sebelumnya, Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) mengkritik pemilihan Aedas sebagai perusahaan perancang kawasan wisata Danau Toba. Menurut Ketua Umum YPDT, Maruap Siahaan, Indonesia banyak memiliki tenaga pakar yang mampu membuat desain berkelas internasional.

(BACA: Mengapa Pihak Asing dan Bukan Kita yang Bangun Danau Toba?)

Sementara itu, terkait lahan seluas 600 hektar di Sibisa yang akan dijadikan kawasan otoritatif, Arie membantah pihaknya masih bersengketa dengan masyarakat adat. 

“Lahan itu kita terima dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup. Mudah-mudahan satu atau dua minggu lagi itu sudah clean and clear,” ujar Arie.

(BACA: Tol Medan-Tebing Tinggi Sudah Bisa Dilalui Sebelum Lebaran 2017)

Arie menambahkan, pihaknya juga akan terus melibatkan masyarakat dalam pembangunan kawasan wisata Danau Toba. Terutama dalam budaya sebagai penarik wisatawan.

"Kalau soal itu (pelibatan masyarakat) kita masih banyak program dengan kementerian dan lembaga yang lain. Semoga dalam waktu dekat kita bisa memberikan pelatihan kepada masyarakat," tambah Arie.