Mengenang 11 Tahun Tragedi Jatuhnya Pesawat Mandala di Medan

Coky Simanjuntak | Selasa, 06 September 2016 08:09:49

Pesawat Mandala Air jauh di Padang Bulan, Sumut, pada 5 September 2005/wikipedia
Pesawat Mandala Air jauh di Padang Bulan, Sumut, pada 5 September 2005/wikipedia

5 September 2005 atau 11 tahun lalu adalah peristiwa bersejarah bagi Sumatera Utara. Bagaimana tidak, sebuah pesawat yang membawa tokoh-tokoh Sumut, jatuh di Padang Bulan, Medan.

100 Penumpang tewas, termasuk Gubernur Sumut Tengku Rizal Nurdin dan mantan gubernur yang juga tokoh Batak, Raja Inal Siregar. 

Sebanyak 49 Orang di darat juga meregang nyawa karena tertimpa pesawat.

Untuk mengenang tragedi tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut), kemarin mengelar peringatan 11 tahun jatuhnya Pesawat Mandala setelah lepas landas di Bandara Polonia Medan.

(BACA: Klub Sepakbola Pertama di Indonesia Didirikan Orang Batak)

Acara peringatan itu dilakukan antara lain dengan melakukan ziarah ke kuburan H T Rizal Nurdin di Komplek Pekuburan Mesjid Raya Al Mahsun, Jalan Sisingamangaraja Medan.

Ziarah yang diikuti dengan pembacaan doa itu dihadiri Gubernur Sumut HT Erry Nuradi yang juga adik almarhum HT Rizal Nurdin, para pejabat satuan kerja perangkat daerah, tokoh masyarakat dan agama.

T Rizal Nurdin/wikipedia

"Tragedi Mandala tahun 2005 merupakan catatan sejarah kelam. Tidak hanya bagi keluarga para korban, tetapi juga bagi masyarakat Sumut," kata H T Erry Nuradi.

“Tragedi ini telah merenggut sejumlah tokoh terbaik Sumut,” ujarnya.

(BACA: Inilah Ompung Pantur Silaban, 'Einstein' dari Tano Batak)

Erry menegaskan, saat menjadi Gubernur Sumut, almarhum HT Rizal Nurdin memiliki etos kepemimpinan dengan berupaya menerapkan konsep Pemerintahan Baik dan Pemerintahan Bersih (Good Government and Clean Governance).

"Konsep yang menjadi pedomanan nasional layak menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Sumut. Mari meneruskan semangat itu untuk membangun Sumut," ujar Erry.

Apalagi, kata dia, sebelumnya mantan Gubernur Sumut H Raja Inal Siregar yang juga tewas di dalam tragedi Mandala itu, juga sudah membuktikan hasil bagus dari program "Marsipature Hutanabe" (bersama-sama membangun daerah).

Raja Inal Siregar/wikipedia

Konsep Marsipature Hutanabe, ujar Erry, masih relevan hingga kini, mengingat Pemprov Sumut sangat membutuhkan anggaran pembangunan yang cukup besar di tengah keterbatasan anggaran yang ada.

Dia mengaku, kepemimpinan kedua almarhum menjadi inspirasi tersendiri yang pantas diterapkan dalam mewujudkan cita-cita menjadikan Sumut yang "Paten".

"Saya mengajak pejabat Sumut untuk menjalankan pemerintahan baik dan bersih serta ikut membantu pembangunan di daerah. Pembangunan di daerah juga menjadi keharusan warga Sumut yang tinggal di luar Sumut." katanya.