Mengapa Pihak Asing dan Bukan Kita yang Bangun Danau Toba?

Coky Simanjuntak | Sabtu, 04 Februari 2017 08:02:43

Danau Toba/batakgaul
Danau Toba/batakgaul

Penggunaan jasa Aedas, konsultan dan perencana arsitektur asal Singapura, untuk membangun kawasan otoritatif wisata Danau Toba, dipertanyakan. Mengapa harus pihak asing dan bukan kita yang membangun kawasan wisata di Bona Pasogit?

Padahal, menurut Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), Maruap Siahaan, Indonesia banyak memiliki tenaga pakar yang mampu membuat desain berkelas internasional. Namun demikian, kata Maruap, persoalan utamanya bukan soal pihak asing saja.

"Kementerian Pariwisata terkesan kurang melibatkan masyarakat lokal di mana pemangku kepentingan ada di tangan masyarakat lokal yang dipimpin kepala adat atau Raja Turpuk,”  kata Maruap seperti dikutip danautoba.org, Sabtu (4/2).

(BACA: Investor Singapura Suka Danau Toba karena Sesuai Feng Shui)

Maruap Siahaan (berdiri)/batakgaul

Oleh karena itu, ujar Maruap, YPDT menyarankan agar Kemenpar berdialog dengan pemangku kepentingan yang hidup dalam masyarakat lokal, seperti lembaga-lembaga adat, gereja-gereja, dan komunitas sosial di KDT. 

"Kemenpar dan Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Danau Toba harus menerima dan mendesain masukan dari para pemangku kepentingan serta melaksanakan pembangunan pariwisata di Danau Toba seturut dengan masukan tersebut,” ujarnya.

(BACA: Demi Promosi, Pemerintah akan Boyong Artis Korea ke Danau Toba)

Sejauh ini, kata Maruap, YPDT belum melihat bahwa Kemenpar dan Badan Pelaksana Otorita Pariwisata Danau Toba (BPOPDT) melakukan dialog kepada para pemangku kepentingan. 

"Hal ini seharusnya langkah awal yang harus dilakukan, bukan dengan mendengarkan dan melihat presentasi desain pembangunan dari Aedas,” katanya.

Menurut Maruap, desain-desain wisata berbasis konsultan merupakan penghamburan uang yang lebih menguntungkan investor.

Kenapa?