Medan Dilanda Hujan Abu Tipis dari Sinabung

Jordan Silaban | Senin, 04 Juli 2016 07:07:47

Erupsi Sinabung Sabtu (21/5)/Komunitas Beidar Sinabung
Erupsi Sinabung Sabtu (21/5)/Komunitas Beidar Sinabung

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali erupsi pada Minggu (3/7) 18.29 Wib. Meski tidak terlalu besar, erupsi melepaskan abu vulkanis yang menyebar hingga ke Kota Medan.

Akibatnya, hujan abu vulkanik tipis itu cukup mengganggu pandangan pengendara dan pejalan kaki di ibu kota Sumut itu pada Minggu (3/7) sekitar pukul 21.00 Wib. 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menjelaskan erupsi menghasilkan kolom abu vulkanik 1.500 m dengan  angin bertiup perlahan ke Timur - Tenggara. 

"Material abu vulkanik ini terbawa angin dan jatuh di Kota Medan, kata Sutopo lewat siaran pers kemarin.

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung masih sangat tinggi. Potensi erupsi susulan juga masih tinggi. Pada Minggu (3/7/2016) sudah terjadi 3 kali erupsi, 38 kali gempa guguran, 10 kali gempa frekuensi rendah, dan 2 kali gempa hybride. Teramati guguran lava pijar sejauh 1.000 m ke arah Tenggara - Timur. 

Teramati guguran lava sejauh 700 - 1000 m kearah Tenggara - Timur dan sejauh 1000 m kearah Selatan - Tenggara. 

(BACA: Semua Korban Luka Awan Panas Sinabung Meninggal Dunia)

Sutupo mengingatkan, aktivitas vulkanik Sinabung masih tinggi, dengan status awas. Rekomendasi dari PVMBG, masyarakat dan pengunjung dilarang melakukan aktivitas di dalam radius 3 km daei puncak. 

Masyarakat dalam jarak: 7 km untuk sektor Selatan-Tenggara; 6 km untuk sektor Tenggara-Timur, dan 4 km untuk sektor Utara-Timur laut agar dievakuasi ke lokasi yang aman. 

"Artinya daerah itu adalah zona merah yang sangat berbahaya dan harus dikosongkan."

Hingga saat ini masih ada 9.319 jiwa (2.592 KK) yang mengungsi di 9 pos pengungsian. Mereka akan merayakan lebaran di pengungsian. 

Selain itu juga masih ada 1.683 KK warga dari 4 desa yang tinggal di huntara sambil menunggu proses relokasi mandiri. 

Mereka adalah warga Desa Berastepu, Gamber, Kota Tonggal, Gurukinayan yang desa asalnya dinyatakan sebagai zona merah dan harus direlokasi.

Masyarakat diimbau untuk mematuhi semua larangan. Zona merah adalah daerah yang sangat berbahaya. 

"Masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di zona merah tersebut,” ujarnya.