Mampukah Jokowi jadikan Danau Toba ‘Monaco of Asia’?

Ester Napitupulu | Minggu, 17 April 2016 05:04:19

Presiden Jokowi mengunjungi Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Selasa (1/3). Setpres
Presiden Jokowi mengunjungi Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Selasa (1/3). Setpres

Kapan terakhir kali kalian pergi ke Danau Toba? Jika menengok kondisi Danau Toba sekarang, bisa dibilang sangat menyedihkan bukan? Kesan semrawut tak bisa disangkal ketika kita menyusuri tepi danau vulkanis terbesar di dunia ini.

Coba kau tengok kedai-kedai kopi dan keramba-keramba yang didirikan seenaknya tanpa memerhatikan estetika. Belum lagi kalau melihat kumpulan sampah yang mengambang. Alamak, miris kali rasanya…

Hotel-hotel yang kusam karena sudah lama tidak dipugar, cukup membuktikan industri wisata di Bona Pasogit kita sedang lesu. Bahkan mati suri!

Padahal, sebagai salah satu keajaiban dunia, Danau Toba menyimpan potensi wisata yang luar biasa.

Namun, jangan kalian kecil hati dulu. Di tengah kelesuan ini, ada secercah harapan ketika Presiden Jokowi berencana ingin menghidupkan lagi wisata Danau Toba. Pemerintah bahkan terobsesi menjadikan Danau Toba ‘Monaco of Asia’.

Soal penamaan Monaco of Asia itu artinya pemerintah ingin menjadikan industri wisata Danau Toba maju seperti di Monaco, negara kota di Eropa Barat yang berbatasan dengan Prancis. Tidak hanya itu, pemerintah ingin Danau Toba yang termaju di kawasan Asia!

Janji Jokowi ini pun sepertinya bukan isapan jempol jika menegok cukup intensifnya rapat-rapat membahas hal ini di bawah komando Menko Kemaritiman Rizal Ramli.

“Pertama, kami akan bersihkan dulu Danau Toba karena banyak yang menanam ikan di situ,” kata Rizal Ramli di Istana Kepresidenan, Jakarta, belum lama ini.

“Setelah itu dibangun infrastrukturnya, jalan, air bersih, internet, dan sebagainya,” ucapnya lagi.

Bahkan, agar rencana ini berjalan mulus, pemerintah akan membentuk badan khusus yang menangani pariwisata Danau Toba. Badan khusus ini akan membuat urusan pembangunan dan pengembangan Danau Toba lebih cepat, tanpa harus menunggu keputusan pemerintah daerah.

"Kita akan buat Toba Tourism Authority,” kata Rizal menambahkan sudah ada 6 investor yang berniat ketika rencana ini digulirkan.

Monaco

Sama dengan pesisir Danau Toba, wilayah daratan Monaco banyak diisi oleh tebing menjorok ke perairan. Bedanya, kalau tanah huta kita menjorok ke danau, daratan Monaco menjorok ke Laut Mediterania.

Keindahan Monaco sekilas bisa kita tengok saat perlombaan Formula-1 di Sirkuit Monte Carlo. Sirkuit dengan banyak tikungan maut itu sebenarnya adalah jalanan yang sehari-hari dipakai untuk umum.

Monaco/huffingtonpost.com

Namun, karena kondisi jalan yang baik dan pemandangan yang indah, jadilah sebulan sekali jalanan itu dipakai untuk balapan.

Kalau ‘Monaco of Asia’ benar terwujud di Danau Toba, bukan tidak mungkin balapan bisa dilaksanakan di dekat kampung-kampung kita. (Sopir Medan siap-siap kalian…!!)

Dari segi luas wilayah, Monaco adalah negara kedua terkecil sekaligus paling padat di dunia. Luas wilayahnya sama dengan satu Kabupaten Toba Samosir, yakni 2,02 km persegi.

Kesamaan topografi dan luas wilayah ini pula barangkali yang menjadikan rencana pembangunan Danau Toba berkiblat ke Monaco. 

Judi 

Selain menjual keindahan alam, industri wisata di Monaco juga dikenal dengan kasino yang banyak digandrungi oleh wisatawan berduit. Itu makanya Monaco dikenal sebagai tempat bermainnya turis kaya raya. 

Kasino paling terkenal di Monaco ada di Monte Carlo yang digabung bersama sebuah resort wisata. Lantas, apakah Danau Toba akan dijadikan tempat perjudian juga?

Belum ada informasi tersebut. Namun yang jelas, judi di Indonesia masih tindakan illegal alias melanggar hukum, kecuali pemerintah dan DPR mau melegalkannya dengan merevisi KUHP.

Monte Carlo Casiono/pbworks.com

Meski perjudian legal di Monaco, kasino di sana ternyata hanya untuk turis. Artinya, warga lokal (baca: tanpa paspor) dilarang masuk dan berjudi. Larangan ini sangat baik dicontoh jika seandainya Danau Toba ingin dijadikan tempat perjudian legal.

Tentu Kalian tidak mau ompung-ompung kalian jatuh miskin karena judi kan?

Pembangunan apapun, termasuk pariwisata, sedikit banyak pasti menimbulkan dampak negatif bagi budaya. Namun, semua tergantung bagaimana kita mengantisipasinya agar yang positif lebih banyak diterima daripada yang negatif.

Tetapi tentu semua akan menjadi negatif kalau seluruh rencana Monaco of Asia ini hanya tinggal rencana, alias cuma cakap. Jadi, untuk pemerintah Jokowi, jangan cuma cakap ya… Kami tunggu!

BACA JUGA