Malam Minggu Terakhir untuk Lestari dan Nova Sibarani

Ester Napitupulu | Selasa, 19 April 2016 18:04:58

Nova Sibarani dan Lestari Sibarani/facebook
Nova Sibarani dan Lestari Sibarani/facebook

Keceriaan masih tampak di wajah Lestari Sibarani (24) dan Nova Sibarani (29), saat kakak beradik itu menghabiskan malam minggu bersama di Ringroad Citywalk, mal di kawasan Ringroad Medan, Sabtu (16/4). Namun, siapa yang menyangka keriangan itu segera hilang.

Malam minggu itu ternyata yang terakhir buat Lestari dan Nova, setelah keduanya diseruduk truk di depan loket Bus Pelangi, Jalan Sunggal, Medan, sekitar pukul 22.00 Wib. Dibawa ke rumah sakit dengan becak motor, nyawa dua Boru Ni Raja itu tetap tak bisa diselamatkan.

"Mereka itu baru pulang belanja. Truk menabrak kencang dari belakang," kata Saut, seorang saksi mata.

Sejumlah saksi menduga truk tersebut ngebut hanya untuk mengejar lampu lalu lintas yang segera berubah menjadi merah. Namun, apa mau dikata, aksi mengejar lampu merah itu justru mengakibatkan pertumpahan darah. Pengemudi truk tersebut berhasil diamankan berkat bantuan warga sekitar.

Dua hari setelah kecelakaan tragsi itu atau Minggu (18/4), jenazah kakak beradik warga Jalan Mongonsidi, Kecamatan Medan Polonia, Medan itu dibawa ke kampung halaman di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Keduanya dimakamkan di Desa Sibarani Nasappulu/Namukkup, Kecamatan Laguboti.

Atas kematian istrinya, Arpenas, suami Nova, meminta pelaku dihukum berat. "Hukuman seumur hidup!" tegas guru di SMP Swasta Brigjen Katamso II Medan ini.

Lestari Seorang Penulis

Berbeda dengan Nova yang sudah menikah, Lestari masih lajang dan tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan. Pada Mei 2016 mendatang, Lestari seharusnya akan diwisuda sebagai Sarjana Pendidikan (S.Pd) bidang Bahasa dan Sastra Indonesia.

Lestari Sibarani/facebook

Selain aktif di berbagai kegiatan kemahasiswaan, Lestari juga dikenal sebagai seorang penulis yang telah melahirkan beberapa karya sastra bersama rekan-rekannya. Bahkan, pemilik nama lengkap Lestari Lasma Sibarani ini pernah menjuarai lomba cerpen Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan pada 2011 silam.

Rudy Yanto Sitohang, yang bersama mendiang pernah menjadi juara lomba cerpen tersebut, mengatakan, karya Lestari tercatat dalam sejumlah antologi. Misalnya, Antologi Cerpen Tualang penerbit Labsas (2011), lalu Antologi cerpen ‘Pijar Heroik’ penerbit harfeey (2012).

“Ada juga antologi puisi kontemporer 'Dongeng-dongeng Cinta Tikus-Tikus Kantor' tahun 2013, dan antologi cerpen Guru Itu Emas, penerbit goresan pena publishing tahun 2013. Itu yang masih bisa terlacak sejauh ini,” kenang Rudy.