Lopian, Kartini dan Boru Batak Kini...

Paul M Tambunan | Senin, 24 April 2017 14:04:48

Lopian/sumber: sampul buku Lopian
Lopian/sumber: sampul buku Lopian

Pada peringatan Hari Kartini 21 April 2017 lalu, batakgaul.com memuat opini dari Hojot Marluga dengan judul ‘Kartini-Kartini Batak'. Tulisan tersebut berisi tentang bagaimana perjuangan kaum perempuan Batak di desa dan kota (dalam konteks hari ini) yang tangguh dan menginspirasi.

Mereka semua adalah para petarung kehidupan. Tentu tak perlu dikultuskan sejajar dengan Kartini. Namun perjuangannya yang tak kenal panas terik dan hujan telah memberi segudang makna, yaitu menjunjung nilai ‘Habonaron’. Itulah substansinya.

Marluga pada artikel tersebut menyinggung sedikit soal Siboru Lopian yang wafat di saat perjuangan bersama ayahnya melawan penjajahan Belanda. Dia sosok perempuan Batak yang tampil membela perjuangan Perang Batak pada 17 Juni 1907.

Tibalah pada pertanyaan, siapakah Lopian yang kita perdengarkan itu?

Yang jelas ia bukan Kartini yang diperdebatkan kemarin oleh banyak orang di media sosial.

Begini...

Hari itu 17 Juni 1907 yaitu peristiwa berlangsungnya Darah Juang di pedalaman belantara Tanah Batak, -dimana Perang Batak meletus dan berakhir memilukan: Sisingamangaraja XII bersamaan dengan Lopian serta pasukan setianya roboh diterjang peluru marsose.

Lopian boru Sinambela (panggilan akrab putri Lopian) adalah anak perempuan Sisingamangaraja XII. Dia dilahirkan oleh ibunda boru Sagala, tepat di Pearaja Dairi, Desa Sionomhudon yaitu ibukota perjuangan Raja Sisingamangaraja XII setelah Bakkara dan Lintong.

Di sinilah Lopian bertumbuh menjadi dewasa dan berjiwa pejuang karena sehari-hari bergaul dengan Rimpu (para pejuang Aceh), di antaranya Tengku Nyak Bantal Situmorang dan Tengku Muhammad Ben, serta para panglima dari Aceh yang setia kepada ayahnya.

Seiring perjalanan hidupnya di usia 17 tahun, Lopian didampingi terus oleh pemuda bernama Barita Mopul Lumban Gaol (Tor Na Ginjang) yaitu pariban dari Lopian, seorang pendekar muda dari Bius Huta Paung yang telah diikrarkan di hadapan penatua kedua belah pihak, akan menjadi pasangan hidup yang serasi.

Dia juga diharapkan akan meneruskan dan menegakkan harkat bangso Batak dengan melawan kolonial Belanda hingga titik darah penghabisan. Namun, nasib kedua kekasih itu ironis ketika bersama Raja Sisingamangaraja XII dan pasukannya yang tinggal belasan orang itu.

Mereka terdesak di Sionomhudon di Dairi, Tor na Ginjang terkena peluru musuh dalam pertempuran. Dia sekarat sehingga dengan berat hati ditinggalkan di sebuah desa oleh rombongan.

Begitu juga dengan Lopian. Sesaat setelah kena tembakan di bagian ulu hati, dia menjerit.

Lalu bagaimana keadaan Lopian selanjutnya?