Kumpulan Cerpen Batak ‘Sonduk Hela’ Raih Hadiah Sastra

Laurencius Simanjuntak | Rabu, 01 Maret 2017 11:03:41

Tansiswo Siagian/istimewa
Tansiswo Siagian/istimewa

Kumpulan cerpen Batak (torsa-torsa hata Batak) yang berjudul Sonduk Hela meraih hadiah sastra Rancagé 2017. Karya sastra ini ditulis oleh Tansiswo Siagian yang disebut sebagai pendatang baru dalam kesusasteraan Batak.

Keputusan pemenang hadiah ini disampaikan secara tertulis oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancagé, Ajip Rosidi, lewat sebuah unggahan di akun Facebook resmi yayasan tersebut, Selasa (28/2).

Ajip Rosidi menjelaskan, ada empat judul karya buku yang terbit dalam bahasa Batak pada 2016. Dari empat buku itu, kumpulan cerpen ‘Sonduk Hela’ (menantu pria yang menumpang di kampung orangtua istri) dianggap memiliki nilai cerita paling kuat.

"Berdasarkan hal itu maka yang patut mendapat Hadiah Rancagé 2017 untuk karya dalam sastra Batak adalah Sonduk Hela, kumpulan 10 cerpen karya Tansiswo Siagian. Terbitan SPT, Jakarta, 2016,” kata Ajip Rosidi.

Tansiswo akan mendapat piagam dan uang Rp 5 juta. Upacara  penyerahan  hadiah akan digelar pada waktu dan tempatnya akan diumumkan kemudian. 

Sonduk Hela/Tansiswo Siagian

Dihubungi terpisah, Tansiswo mengaku terkejut kumpulan cerpennya mendapatkan hadiah bergengsi untuk pengembangan bahasa dan sastra daerah tersebut.

“Saya diberi tahu kemarin saat SK pengumuman keluar. Terkejut karena memang tidak pernah mengirimkan kumpulan cerpen. Ternyata penerbit yang mengirimkan,” Tansiswo yang memiliki nama pena ‘Palombok Pusupusu' ini.

Pria 56 tahun beranak lima ini berharap penghargaan ini semakin mendorong penulis-penulis Batak, khususnya muda-mudi (naposo), untuk menelurkan karyanya.

“Dengan semakin banyaknya karya sastra berbahasa daerah, maka laju kepunahan bahasa daerah akan semakin lambat,” kata Tansiswo yang juga aktif menulis untuk batakgaul.com ini.

Ditanya soal karya selanjutnya, Tansiswo mengatakan, pada April mendatang dia juga akan menelurkan sebuah kumpulan cerpen bahasa Batak.

Kali ini karyanya bercerita tentang perjuangan ibu (inong) atau perempuan Batak dalam mendukung suaminya demi meningkatkan taraf kehidupan, seperti menyekolahkan anak setinggi-tingginya.

“Harus diakui perjuangan inong banyak mengambil peran dalam kemajuan naposo Batak sekarang,” ujar Tansiswo.

Untuk diketahui, Hadiah Sastra Rancagé sudah diberikan kepada orang-orang yang dianggap telah berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah sejak 1989. Pada awalnya (sampai 1993) hadiah sastra ini hanya untuk sastra Sunda.

Dalam perkembangannya, hadiah juga mencakup sastra Jawa, Bali, Lampung dan Batak. Khusus sastra Batak, hadiah diberikan sejak 2015.