Kriminalisasi di Tanah (Ompung) Kami

Laurencius Simanjuntak | Jumat, 03 Februari 2017 08:02:33

Alat berat PT TPL sedang bekerja di sektor Aek Nauli/batakgaul
Alat berat PT TPL sedang bekerja di sektor Aek Nauli/batakgaul

Jika saja nyali Jahotman Nainggolan (37) ciut siang itu, barangkali nasib dia akan sama dengan kerabatnya yang lain: tak lagi punya tanah untuk diolah.

Namun kata-kata ‘saya siap ditembak’ kepada aparat suruhan pada 2012 silam, membuat Jahotman masih bisa mengusahakan tanah peninggalan leluhurnya hingga sekarang.

“Mati pun saya siap demi mempertahankan tanah ini,” kata Jahotman kepada batakgaul.com di ladangnya di Desa Pondok Bulu, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, belum lama ini.

Ladang Jahotman seluas 2 hektar itu kini nyempil di tengah-tengah areal konsesi PT Toba Pulp Lestari (TPL). Selebihnya, sekitar 380 hektar tanah komunitas adat Nagahulambu, sudah dikuasai oleh perusahaan penghasil bubur kayu tersebut dengan alasan masuk izin konsesi.

Jahotman Nainggolan di ladangnya/batakgaul

Padahal, tutur Jahotman, tanah tersebut adalah peninggalan nenek moyangnya, Tuan Nagahulambu, yang keturunannya kini terdiri dari 4 marga: Sinaga, Sitio, Sitindaon dan Siallagan.

“Saya ini generasi ketujuh Tuan Nagahulambu. Kalau satu generasi itu 20 tahun, maka tanah ini sudah 140 tahun. Jadi, sebelum Soekarno lahir, ini sudah tanah ompung kami,” kata bapak tiga anak ini.

Namun, akhirnya keberanian jugalah yang membawa Jahotman pada proses hukum. Pada 2013, dia divonis 3 bulan satu minggu penjara karena memimpin aksi pengusiran para karyawan TPL dengan menggunakan bambu runcing.

“Padahal kami hanya ingin mempertahankan hutan kami supaya tidak dibabat. Ya, saya jadinya yang dikriminalisasi supaya yang lain takut,” kata Jahotman.

Meski pernah tersangkut kasus hukum, Jahotman kini satu-satunya warga keturunan Nagahulambu yang bisa mengusahakan tanah peninggalan nenek moyangnya.

"Orang-orang iri sebagian nengok aku, karena aku bisa berladang sekarang," kata Jahotman yang menyatakan siap jika sewaktu-waktu TPL datang 'mengganggu.'

Proses pidana dengan pelapor PT TPL ini juga pernah dirasakan Sammas Sitorus (35).

Bagaimana ceritanya?