KPAI Minta Bomber Gereja di Medan Diperlakukan Khusus

Ester Napitupulu | Rabu, 31 Agustus 2016 15:08:34

IAH, pelaku teror bom di Gereja Santo Yosep, Medan/twitter
IAH, pelaku teror bom di Gereja Santo Yosep, Medan/twitter

Pelaku teror bom di Gereja Katolik Santo Yosep, Jl Mansyur Medan, IAH, masuk dalam kategori anak-anak karena belum genap berumur 18 tahun. 

Oleh karenanya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta tersangka diperlakukan khusus.

"Anak yang menjadi pelaku tindak pidana hak-hak dasarnya tetap ada, sungguhpun tidak dalam kerangka membenarkan tindak pidananya. Tapi kalau anak pelakunya, butuh spesial treatment," ujar Ketua KPAI Asrorun Niam di Mabes Polri, kemarin.

(BACA: Orangtua Bomber Medan: Anak Kami Masih di Bawah Umur)

Asrorun mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) terkait penanganan kasus terorisme yang melibatkan anak.

Menurutnya, banyak aspek yang menyebabkan seorang anak nekat melakukan aksi teror, seperti dilakukan dilakukan Ivan.

Misalnya, karena pengaruh dari orang dewasa. Apalagi IAH melakukan semua itu karena tergiur janji Rp 10 juta.

(BACA: 3 Alasan Kenapa Orang Batak Nyaris Tak Mungkin Jadi Teroris)

Menurutnya, banyak kasus terorisme yang menyasar anak, baik dijadikan korban langsung atau orban doktrinasi. “Sehingga dia potensial menjadi pelaku," kata dia.

Asrorun meyakini IAH adalah korban doktrinasi. "Sehingga harus ada proses pencegahan agar anak yang terindikasi terpapar radikalisme itu, bisa diselamatkan, bisa dilindungi, bisa dipulihkan dengan cara melakukan proses pendidikan ulang," kata dia.