Komunitas Batak Protes Keras Batu Hobon di Samosir Terbelah 

Jordan Silaban | Selasa, 01 November 2016 09:11:14

Batu Hobon/FB: Enni Martalena Pasaribu
Batu Hobon/FB: Enni Martalena Pasaribu

Terbelahnya Batu Hobon di Desa Limbong Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, memicu reaksi dari komunitas Batak dari rumpun marga Guru Tatea Bulan di Medan.

Mereka memprotes keras atas kerusakan salah satu situs budaya Batak yang disakralkan tersebut akibat pemugaran. 

"Jadi, pemugaran dengan perusakan Batu Hobon itu harus dihentikan dan pihak Pemkab atau panitia proyek harus terlebih dahulu kordinasi atau konsultasi dengan pihak ahli waris atau para  keturunan lelulur Batu Hobon itu," ujar Ketua Umum Parsadaan Pomparan Guru Tatea Bulan se-Indonesia, Nelson Djaingot Malau kepada pers, belum lama ini.

Nelson mempertanyakan dan menyesalkan pihak Pemkab Samosir yang terkesan membiarkan perusakan situs Batu Hobon tersebut dengan dalih proyek pemugaran dan pembangunan patung atau tugu salah satu rumpun marga (Saribu Raja) di kompleks Batu Hobon tersebut.

"Secara material, Batu Hobon  memang tampak seperti bongkahan batu biasa, tapi secara kultural Batu Hobon punya nilai sakral di kalangan masyarakat Batak Samosir, khususnya para  keturunan Guru Tatea Bulan,” ujar Nelson. 

Batu Hobon/samosirwisata.files.wordpress.com

Komunitas tak ingin batu itu berubah bentuk walau sedikitpun karena batu itu punya nilai kearifan lokal (local wisdom) yang tinggi. 

Bersama rekan-rekannya, Nelson menunjukkan dokumentasi foto-foto progres pemugaran di kompleks Batu Hobon yang dikirimkan pihak keluarga dari komunitas dan pengurus marga tersebut.

Menurut mereka, bentuk Batu Hobon tak lagi sesuai aslinya. Misalnya, wajah atau bagian atas batu yang mirip tingkap bernuansa kepala kerbau, nyaris tak kelihatan lagi. Belum lagi posisi Batu Hobon pun tak lagi pada tempat aslinya (semua mengarah mandala atau gapura) karena akan terhalang patung yang baru dibangun dengan miniatur kompleks.

Batu Hobon (bahasa Batak= batu mirip peti) itu terletak di Dusun Sibumbung rumah, di antara Desa Sagala dan Limbong. Selain mirip bentuk kepala kerbau, tingkap atau bagian atas batu ini juga mirip 'daun love' tutupnya berbentuk cinta (love). 

Batu keramat ini sangat disakralkan orang Batak di Samosir karena dipercayai sebagai peti (hobon) penyimpan sejumlah harta kekayaan leluhur Guru Tatea Bulan, peninggalan (harta karun) nenek moyang yang terpaksa membawa sendiri atau membenamkan semua harta itu bersama mayatnya ke dalam rongga (ruang) batu, untuk menghindari rebutan harta dari 10 anaknya (5 putra 5 putri). 

Belakangan, cerita tentang harta karun itu kemudian dijadikan kiasan untuk kearifan lokal menghargai apapun bentuk peninggalan para leluhur atau nenek moyang orang Batak.