Klub Sepakbola Pertama di Indonesia Didirikan Orang Batak

Coky Simanjuntak | Minggu, 12 Juni 2016 22:06:19

Jairo Matos asal Brasil memperkuat klub Pardedetex/twitter
Jairo Matos asal Brasil memperkuat klub Pardedetex/twitter

Demam sepakbola Piala Eropa dan Copa America kini sedang melanda Indonesia dan dunia. Ratusan juta pasang mata kini tertuju ke Eropa dan Amerika, dua benua dengan permainan sepakbola terbaik di dunia.

Di tengah demam bola di tanah air ini, tahukah kalian bahwa klub sepakbola profesional pertama di Indonesia didirikan oleh orang Batak?

Pardedetex (Medan). Itulah nama klub sepakbola yang didirikan pada 1960-an oleh Tumpal Dorianus (TD) Pardede, salah satu orang terkaya di Indonesia pada masanya.

Selain Pardedetex, sebenarnya ada tujuh klub lain yang disahkan Ketua Umum PSSI Bardosono sebagai klub profesional pertama di Indonesia pada upacara di kantor PSSI, Senayan, Jakarta, 15 Agustus 1976.

Tujuh klub lain itu yakni Bangka Putra (Sungailiat, Bangka), Jayakarta (Jakarta), Buana Putra (Jakarta), Tunas Jaya (Jakarta), Warna Agung (Jakarta), Palu Putra (Palu), dan Beringin Putra (Makassar).

Namun dari delapan klub profesional pertama itu, Pardedetex yang paling mencuri perhatian. Sebab, sejak meramaikan Galatama, liga sepak bola profesional pertama di Indonesia pada 1979, klub kebanggan 'anak Medan' itu langsung merekrut pemain-pemain top.

(BACA: Ternyata, Ada 'Boru Nainggolan' Bermain di Klub Sepakbola Italia)

Aturan Galatama yang memperbolehkan pemain asing, dimanfaatkan betul oleh Pardedetex. Dengan duit yang besar, Pak Katua, sapaan akrab TD Parede, mampu mendatangkan Jairo Matos gelandang asal Brasil. Hal ini jelas menyita perhatian pencinta sepakbola nasional kala itu.

Pak Katua juga merekrut sejumlah bintang timnas era 1970-an, seperti Sotjipto Soentoro, Abdul Kadir, Jacob Sihasaleh, dan akhirnya juga merekrut pemain-pemain berbakat seperti Chaerul Chan, Herry Kiswanto, Zulham Effendi.

TD Pardede (tengah)/juara.net

Namun sayang, Pak Katua membubarkan Pardedetext pada 1984 karena prestasi klub yang terus merosot. Belum lagi kondisi persebakbolaan nasional yang semakin kacau.

"Dang olo ahu dimaki halak (Tidak mau aku dimaki orang)," kata Pak Katua seperti dilansir Tabloid Bola edisi 3 Juli 1987.

Alasan lain pembubaran Pardedetex juga karena manajer tim, Jhony Pardede, yang juga anak kedelapan Pak Katua, menderita sakit lantaran tekanan mental yang cukup tinggi. Akibat sakit itu, Jhony sempat beristirahat cukup lama.

Sumber lain menyebutkan, Pardedetex dibubarkan oleh Pak Katua, karena klubnya sering dijadikan tempat mengatur skor dan lahan para bandar judi. Sampai akhirnya dibubarkan, Pardedetex tidak pernah sekalipun menjuarai Galatama.

Keputusan Pak Katua membubarkan Pardedetex, juga diikuti penurunan pamor Galatama dari tahun ke tahun. Penurunan ini semakin menjadi setelah dikeluarkannya pelarangan pemain asing, kecurigaan 'main mata' antarklub, dan bahkan isu suap.

Melihat kondisi tersebut, banyak klub yang akhirnya mengikuti jejak Pardedetex dengan mengundurkan diri.

(BACA: Cerita ’Si Batak Kembar' Cetak Sejarah di Belgia)

Pak Katua dipanggil Bapa di Surga pada 18 November 1991. Untuk mengenang jasa-jasanya sebagai pelopor sepak bola, setiap tahunnya di Medan digelar Turnamen Piala T.D. Pardede. Turnamen ini disertai acara In Memoriam di Universitas Darma Agung.

Berikut riwayat karier TD Pardede:

  • Tahun 1954 menjadi Wakil Ketua Majelis Indonesia (MII)
  • Tahun 1955 Ketua Gabungan Perajutan Sumatera Utara
  • Tahun 1959 menjadi Wakil Ketua |Majelis Perniagaan dan Perusahaan (MPP)
  • Tahun 1857 menjabat Ketua IV Dewan Ekonomi Indonesia Pusat di Jakarta
  • Tahun 1960 Anggota Mejelis Pusat HKBP
  • Tahun 1962 menjabat Ketua Dewan Keuangan Umum HKBP
  • Tahun 1962 dipercayakan memegang jabatan Ketua Dewan Pimpinan Yayasan Universitas HKBP Nommensen
  • Tahun 1963 menjadi Anggota Dewan Penyantun Universitas Sumatera Utara
  • Tahun 1964 diangkat sebagai Penasehat Menteri Perindustrian Rakyat
  • Tahun 1964 Anggota Badan Pekerja Lengkap DGI (Dewan Gereja gereja Indonesia)
  • Tahun 1965 Pembantu Menteri Menko Deperindra urusan Berdikari
  • Tahun 1966 Ketua Umum Bamunas Pusat
  • Tahun 1966-1979 Rektor Universitas HKBP Nommensen
  • Tahun 1971 Anggota DPR/MPR melalui pemilu
  • Tahun 1972 Ketua Pelaksana Panitia Konfrensi Executive Gereja Luther Sedunia (LWF)
  • Tahun 1972 Ketua Umum Konsultasi Pendidikan Theologia Sumut
  • Tahun 1975 Ketua Umum PSSI
  • Tahun 1979-1990 Rektor dan Ketua Yayasan Universitas Darma Agung
  • Tahun 1982 Ketua Harian Pengurus Sepak Bola Galatama
  • Tahun 1982 Menteri Berdikari Republik Indonesia

(Dari berbagai sumber)

SPONSORED
loading...