Kisah Berlin Silalahi, Korban Tsunami yang Ingin Disuntik Mati

Coky Simanjuntak | Rabu, 24 Mei 2017 19:05:28

Berlin Silalahi bersama istri dan anaknya/Sumber: Rakyat Aceh
Berlin Silalahi bersama istri dan anaknya/Sumber: Rakyat Aceh


Berlin Silalahi adalah salah satu korban selamat dalam bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam. Dari pernikahannya dengan Ratnawati tahun 2002, Silalahi dikaruniai dua orang putri, Tasya Maizura (11) dan Fitria Balqis (5).

Saat ini Tasya akhirnya diserahkan kepada kakak sang istri Ratnawati untuk dirawat dan bisa melanjutkan sekolah. Sementara si bungsu, Balqis masih ikut bersama mereka.
Sebelum tsunami akhir 2004, Silalahi bekerja sebagai mekanik mesin di sebuah bengkel sepeda motor. Dia juga sempat bekerja sebagai petugas tiket pada angkutan minibus L-300 Trayek Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP).

Setelah Aceh porak poranda karena tsunami, Silalahi tinggal di barak hunian sementara, karena rumah yang mereka sewa ikut hancur.

Pria kelahiran Batak-Jawa ini mulai sakit-sakitan sejak tinggal di barak, hingga akhirnya dia lumpuh total pada 2014 silam. Padahal, dia sudah setelah menjalani pengobatan medis dan alternatif di Kota Lhokseumawe.

Sekembalinya ke Banda Aceh, Silalahi sudah bolak balik menjalani perawatan ke rumah sakit. Tapi penyakit yang dideritanya belum kunjung sembuh. Bahkan, semakin parah.

Ratnawati bercerita, suaminya yang lumpuh semakin tertekan ketika barak yang selama ini menjadi tempat tinggal mereka dibongkar oleh Satpol PP Kabupaten Aceh Besar.

Tertekan secara fisik dan batin, Silalahi pun akhirnya memutuskan untuk mengajukan permohonan suntik mati untuk mengakhiri seluruh penderitaannya. Namun, Hakim Tunggal PN Banda Aceh, Ngatimin, menolak permohonannya pada persidangan Jumat, (19/5).

Apa alasan hakim?