Kenapa Tak Satu pun Misionaris Jerman Kawin dengan Boru Batak?

Ester Napitupulu | Selasa, 07 Juni 2016 09:06:57

Ilustrasi boru Batak tempo dulu/kaskus
Ilustrasi boru Batak tempo dulu/kaskus

Dahulu Tanah Batak adalah sasaran utama para penginjil Jerman yang tergabung dalam Rheinische Missionsgesellschaft (RMG). Bahkan, salah satu tokoh RMG, Ludwig Ingwer Nommensen, sangat dikenang sebagai bapak pendiri Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Selain Nommensen, ada seratus lebih penginjil utusan RMG yang dikirim ke Tanah Batak dalam usia 20-an tahun. Meski demikian, dari jumlah pendeta muda yang sedemikian banyak, ternyata tidak satu pun dari mereka yang kawin dengan gadis Batak.

Padahal, pada saat yang bersamaan, banyak penginjil di belahan dunia lain yang kawin dengan perempuan setempat. Misalnya saja, penginjil London Missionary Soceity (LMS), JG Ulbritch, yang kawin dengan seorang perempuan suku Nama di Afrika Barat Daya pada 1808.

Lalu kenapa tidak satu pun penginjil Jerman yang kawin dengan boru Batak?

Dalam 'Utusan Damai di Kemelut Perang' (2010), sejarahwan Batak asal Jerman, Uli Kozok, mengatakan para penginjil Jerman di Tanah Batak kebanyakan menikahi perempuan yang juga berasal dari negaranya. Hal ini karena RMG juga bertugas mengirimkan calon istri untuk para misionaris tersebut.

Markas RMG di Wuppertal, Jerman/wikipedia 

Calon istri penginjil August Mohri misalnya, dikirim oleh RMG pada 1869 bersama tiga perempuan lain untuk calon istri penginjil di Borneo. Setibanya di Batavia, calon istri Mohri naik kapal ke Padang, lalu ke Sibolga untuk bertemu dengan penginjil yang masuk Tanah Batak dua tahun sebelumnya atau 1867.

Kozok mengatakan, pada awal abad ke-19 masih ada toleransi terhadap perkawinan campuran, namun dengan berkembangnya paham rasisme dan terutama ideologi keunggulan ras Jerman kala itu, maka toleransi semakin menipis.

(BACA: Sulitnya Penjajah dan Misionaris Barat Temukan Danau Toba)

Oleh karenanya, kawin dengan perempuan suku bangsa lain adalah perbuatan tercela. Menurut Birthe Kundrus (2003), setidaknya ada dua alasan utama kenapa pemerintah dan publik Jerman menilai perkawian campuran sebagai perbuatan tercela.

Selain alasan rasisme yang berkembang di Jerman pada paruh pertama abada ke-20, alasan lain adalah berkaitan dengan hubungan tuan kolonial dengan pribumi. Perkawinan campuran ditolak semata-mata agar kaum pribumi tidak beranggapan memiliki hak yang sama dengan kolonial.

SPONSORED
loading...