Insiden Warteg Ibu Saeni Takkan Terjadi di Medan yang Toleran

Coky Simanjuntak | Senin, 13 Juni 2016 20:06:06

Ibu Saeni/youtube
Ibu Saeni/youtube

Sepekan terakhir perhatian publik sedang tertuju pada aksi brutal para anggota Satpol PP Kota Serang yang merazia warteg Ibu Saeni, Rabu (8/6).

Warung makan yang buka saat jam buka puasa itu menjadi alasan tindakan semena-mena Satpol PP terhadap Ibu Saeni.

Tidak hanya menutup warung, dengan dalih peraturan daerah (perda), para petugas Satpol PP itu juga 'menjarah' semua makanan milik Ibu Saeni. Tangis Ibu Saeni pun tidak mereka gubris.

"Setelah kejadian itu saya sakit, ketakutan, sampai sekarang masih deg-degan," kata Eni, sapaannya, sambil menunjukkan obat yang diminumnya, belum lama ini.

Melihat hal tersebut, rasanya insiden yang sama sulit terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Sebab, selama ini Medan dikenal dengan kota multi etnis dan multi agama yang toleran.

"Kristen, Islam, Hindu, Buddha semua tumplek di sana," kata Chazizah Gustina, yang selama 22 tahun tinggal di Jl Prof HM Yamin, Medan.

Zizah mengatakan, di Medan ada kampung keliling yang isinya penduduk beragama Hindu dan Islam yang hidup berdampingan. Kemudian ada China Town di kawasan Asia Mega Mas. Di daerah Simalingkar, banyak orang batak Toba dan Karo, dan lain-lain.

"Dari zaman dulu bulan puasa di beberapa tempat tetap ada yang berjualan. Bahkan ada beberapa lapo di daerah dekat kampus USU tetap buka. Tukang gorengan pun buka dari siang," kata Zizah.



Meski banyak warung makan yang buka saat bulan puasa, kata Zizah, kebanyakan umat muslim di Medan tidak mengeluh.

"Apa yang nonmuslim dinilai gak menghormati atau gak menghargai yang muslim yang sedang berpuasa? Gak juga," katanya.

"Yang muslim kalem, santai. Setahuku, gak ada muslim di sana yang merasa risih," kata Zizah yang juga sedang menjalani ibadah puasa.

Menurutnya, kebanyakan umat muslim di Medan tidak fanatik, namun bukan berarti tidak taat pada agama.

"Justru karena mereka sangat taat menjalankan agama masing-masing makanya jadi toleran," ujarnya.

"Hidup di Medan, menurutku kalau bahasa pasarannya ya cuek aja. Menjalankan agama kita masing-masing. Bahasa halusnya ya toleransi tinggi," kata ibu dua anak yang kini bermukim di Jakarta ini.

(BACA: Arsitek Batak Perancang Masjid Istiqlal)

Zizah meyakini, penutupan warung makan selama jam puasa tidak akan terjadi di Medan.

"Lah kalau ditutupin semua warung gimana penduduk yang non-muslim mau makan? Sementara di sana Islam dan agama lain jumlahnya relatif imbang," ujar dia.

Sementara itu, Lia Harahap, yang pernah 20an tahun hidup di Medan, juga mengakui toleransi penduduk Medan sangat tinggi, sehingga insiden warteg Ibu Saeni sulit terjadi di kota itu.

"Sebenarnya di medan sendiri Satpol PP gak terlalu banyak kelihatan aksinya selain menertibkan Pasar Sukaramai dan Simpang Limun," ujarnya.

"Selebihnya Satpol PP cuma menjaga rumah pejabat daerah dan Lapangan Merdeka," ujarnya.

SPONSORED
loading...