'Ikan Mati di Danau Toba Seperti Sudah Biasa'

Delima Silalahi | Minggu, 15 Januari 2017 12:01:51

Ilustrasi/antara
Ilustrasi/antara

“Ribuan ikan mati di Danau Toba” sepertinya berita seperti ini sudah hal yang biasa kita dengar. Setelah tahun lalu di daerah Haranggaol, awal tahun 2017 ini terjadi di perairan Muara dan Tipang.

Senin lalu, saya dapat telepon dari seorang warga di Muara, “Bisakah datang ke kampung? Sejak kemaren air Danau Toba kuning kehitam-hitaman dan berbuih. Kami tidak berani menggunakannya bahkan untuk nyuci kain.” 

Sebelumnya, pagi hari kami pun sudah mengetahui kabar ini dari seorang Kepala Desa di kawasan Muara-Sibandang. “Bisakah ito dan kawan-kawan datang ke kampung, air Danau Toba menghitam dan berbuih sejak kemaren."

Namun karena sedang berada di Parapat, kami pun baru ke sana hari Rabu pagi. Air Danau Toba sudah kembali jernih. Tepi pantai hanya menyisakan sedikit lumpur warna kehitaman yang menyatu dengan pasir putih. 

Danau Toba kembali ramah menyejukkan mata. Yang tersisa hanya bangkai-bangkai ribuan ikan yang mengapung di keramba milik masyarakat di daerah Muara dan Tipang.

Kondisi ini tidak hanya terjadi di Muara dan sekitarnya. Air Danau yang keruh juga terjadi di perairan Sabulan sebagaimana disampaikan Anggiat Sinaga dalam postingan FB-nya. 

Semakin dibicarakan, kondisi Danau Toba semakin tidak menentu. Selain surutnya air Danau yang menurut para pengamat pantai mencapai dua meter, perubahan warna air juga kerap terjadi. Menyisakan sejuta tanya, hanya saja hanya bisa bertanya, karena untuk menelitinya secara komprehensif tak punya kemampuan.

Berbagai asumsi juga muncul, sebagaimana kata Bapak Rajagukguk di Sibandang, Rabu, 11 Januari 2017 lalu, “Kemungkinan besar ini karena limbah pakan dan kotoran ikan yang mengendap di Danau Toba, milik perusahaan dan masyarakat. Angin yang melanda Danau Toba sejak awal Januari membawa raun-racun tersebut ke wilayah kami.” 

Warga lainnya juga memiliki pandangan berbeda, “Mungkin sudah terlalu banyak dosa-dosa para penghuni kawasan Danau Toba ini, sehingga Sang Pencipta marah.” 

Ada pula yang mengaitkannya dengn gempa bumi yang terasa pada Jumat, 6 Jaanuari lalu. Iya, rakyat hanya bisa berasumsi dan menduga-duga, berdasarkan perasaan dan pengamatan di sekitarnya.

Kejadian ini terus berulang, tanpa ada solusi yang tepat mengatasinya. Awal tahun 2016, pemerintah dengan nada tegas bahkan akan meng-”kepret”-para perusahaan di sekitar Danau Toba, yang diduga berkontribusi melakukan pencemaran Danau Toba. 

Namun seiring perjalanan waktu, sanksi ini pun menguap diterbangkan angin, digantikan angin yang lebih hangat dari ibukota, bahwa Danau Toba akan dikembangkan menjadi daerah tujuan wisata berkelas internasional.

Jika tidak salah paham, menoleh ke belakang, rencana pembangunan kawasan Danau Toba ini berangkat dari keprihatinan akan kerusakan lingkungan di Danau Toba. Dari keprihatinan inilah muncul Perpres 81/Tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Danau Toba. 

Dalam perpres tersebut (pasal 6) disebutkan bahwa Penataan ruang Kawasan Danau Toba bertujuan untuk mewujudkan: Pertama, pelestarian Kawasan Danau Toba sebagai air kehidupan (Aek Natio) masyarakat, ekosistem, dan kawasan kampung masyarakat adat Batak; Kedua, pengembangan kawasan pariwisata berskala dunia yang terintegrasi dengan pengendalian kawasan budi daya sesuai degan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup serta adaptif terhadap bencana alam.

Sungguh menggembirakan, ketika gebyar pembangunan pariwisata Danau Toba sudah mengukuhkan tapaknya dengan terbentuknya sebuah Badan Otorita Pariwisata KDT. Bahkan pengurus dan kelengkapan organisasinya sudah terbentuk. 

Tidak terpungkiri, mereka yang duduk di sana juga bukan orang sembarangan, pastinya memiliki tingkat pengetahuan dan pegalaman yang mumpuni dalam mengembangkan sebuah daerah tujuan wisata.

Walau masih seumur sawi, belum seumur jagung, namun harapan terhadap badan ini cukup besar. Khususnya terkait pemulihan lingkungan di kawasan Danau Toba. Sehingga kehadiran Badan ini benar-benar mampu merajut benang merah konsep pengembangan kawasan pariwisata Danau Toba dengan pelestarian Kawasan Danau Toba sebagai air kehidupan bagi masyarakat, ekosistem dan kawasan kampung masyarakat Batak.

Karena membangun danau Toba tidak hanya membangun pariwisata dan infrastruktur fisik semata, tetapi juga membangun infrastruktur sosial dan lingkungan yang berkelanjutan dan berkeadilan. 

Akan sangat menggembirakan jika Badan ini terlebih dahulu menyentuh persoalan lingkungan hidup di Kawasan Danau Toba yang sudah akut. Misalnya dengan menghasilkan rekomendasi meng-”kepret”-para perusahaan yang diduga mencemari Danau Toba berdasarkan hasil penelitian. 

Atau jangan-jangan pemerintah juga akan membangun sebuah Badan khusus yang akan menangani Lingkungan Hidup, yang nantinya bernama Badan Otorita Pengelola LH di KDT? Semoga Tidak. 

(Silangit, 13 Januari 2017)

Penulis: Delima Silalahi, Staf Kelompok Studi Pengembangan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). 

(Artikel ini diambil dengan izin dari dinding Facebook penulis dan sepenuhnya tanggung jawab penulis)