Hutan Adat Diakui Negara, Masyarakat Batak Humbahas Ulosi Jokowi

Coky Simanjuntak | Jumat, 30 Desember 2016 15:12:34

Presiden Jokowi diulosi oleh masyarakat adat Humbahas/ FB: Suryati Simanjuntak
Presiden Jokowi diulosi oleh masyarakat adat Humbahas/ FB: Suryati Simanjuntak

Masyarakat adat Batak di Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, akhirnya mendapat pengakuan negara atas hutan adat mereka seluas 5.172 ha.

Pengakuan tersebut langsung disampaikan Presiden Jokowi kepada perwakilan masyarakat di Istana Negara, Jumat (30/12). Selain Pandumaan-Sipituhuta, ada 8 komunitas masyarakat adat lain yang mendapat pengakuan serupa.

"Kami sangat senang, dulu kami beban melawan pengusaha dibarengi dengan polisi dan tentara. Sekarang sudah diakui hak milik dari pada masyarakat adat. Senang sekali, makanya kami pilih jokowi supaya kami juga ingin perubahan," kata Ketua Perjuangan Masyarakat Adat Pandumaan-Sipituhuta, James Sinambela.

Suryati Simanjuntak dari Kelompok Studi Pengembangan dan Prakarsa Masyarakat (KSPPM) yang sejak 2009 mendampingi masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta juga mengapreasi pengakuan dari negara ini.

“Kami tentu mengapresiasi ini, akhirnya pecah telor,” kata Suryati.

(BACA: Suryati Simanjuntak, Separuh Hidup untuk Tano Batak)

Disebut 'pecah telor’ karena selama ini memang baru warga Pandumaan-Sipituhuta yang akhirnya ‘menang’ dalam konflik agraria melawan PT Toba Pulp Lestari (TPL), perusahaan bubur kertas yang menguasai 180 ribu hektar lebih hutan di Tano Batak.

Pengakuan hutan adat ini juga pertama kali dilakukan oleh negara pasca-putusan MK 35/PUU-X/ 2012 yang menyatakan bahwa 'hutan adat bukan hutan milik negara'.

Presiden Jokowi bersama Bupati dan masyarakat adat Humbahas/ FB: Suryati Simanjuntak

Dengan diterbitkannya Surat Keputusan (SK) Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 923/Menlhk/Sekjen/HPL0/12/2016, maka PT TPL harus angkat kaki dari 5.172 ha hutan kemenyan (tombak haminjon) milik warga Pandumaan-Sipituhuta yang selama ini mereka kuasai. 

Suryati mengakui, perjuangan halak hita di dua desa ini memang paling solid.

“Ini pembelajaran bagi komunitas-komunitas lain bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia,” ujar Suryati.

Jokowi Diulosi

Berterima kasih kepada Presiden Jokowi atas pengakuan hutan adat mereka, masyarakat Batak Pandumaan-Sipituhuta menyematkan ulos kepada sang kepala   pemerintahan.

Pemberian ulos ini dilakukan perwakilan masyarakat adat yakni James Sinambela, Gatang Lumban Gaol, Rusmedia boru Lumban Gaol dan Mangasal Lumban Gaol.

(BACA: Kain-kain Batak yang Pernah Dipakai Jokowi)

Presiden Jokowi diulosi oleh masyarakat adat Humbahas/ FB: Suryati Simanjuntak

Kepada masyarakat adat, Jokowi mengakui dalam pemerintahan yang lalu, pembangian SK seperti ini dilakukan kepada korporasi besar. 

“Saat ini kita telah memulai bahwa SK tentang pengelolaan hutan itu diberikan kepada rakyat,” kata Jokowi.

Dalam acara tersebut juga hadir Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor, Menteri LHK, Siti Nurbaya, Mensesneg Supratikno, Menko Polhukam Wiranto, Mendagri Tjahjo Kumolo, Kepala BPN Sofyan Djalil dan Kepala Staf Kantor Kepresidenan, Teten Masduki.

SPONSORED
loading...