Hebat! Ari Tarigan Temukan Pembasmi Hama Keong dari Bahan Alami

Jordan Silaban | Sabtu, 30 April 2016 02:04:00

Ari Tarigan (kiri) bersama rekannya memamerkan hasil penelitian/rri.co.id
Ari Tarigan (kiri) bersama rekannya memamerkan hasil penelitian/rri.co.id

Satu lagi anak muda membuat Bangso Batak bangga. Dia adalah Ari Ananda Tarigan, siswa SMP Negeri 1 Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, yang menemukan obat pembasmi hama keong mas melalui cara alami.

"Cairan pembasmi hama keong mas ini berasal dari daun sipait-pait," kata Ari di Pandan, Sabtu (30/4).

Ari mengatakan, temuannya itu berawal dari tugas sekolah yang diberikan guru. Dia mencoba menganalisis kandungan serat dari daun sipait-pait dan mengombinasikan dengan cairan air biasa. Hasilnya, senyawa itu bisa membunuh hama keong mas.

"Awalnya dari ketidaksengajaan saya memilih bahan alami, yakni daun sipait-pait dan daun lainnya untuk dijadikan bahan penelitian untuk tugas sekolah," katanya.

Berdasarkan penelitian yang dia lakukan, daun sipait-pait memang mampu menjadi pestisida pembasmi keong mas. Daun itu juga banyak ditemukan di dekat sekolah Ari dan sekitar Tapteng.

Agus Hutabarat, guru Fisika SMP Negeri 1 Pandan mengatakan, penelitian tersebut belum menguji khasiat daun sipait-pait dan daun lainnya untuk membasmi keong mas.

Mereka tidak membahas bentuk pengemasan ideal daun sipait-pait dalam membasmi hama.

"Perlu ada penelitian lanjutan untuk mempermudah penyebaran daun sipait-pait ini dengan membuat produk ini menjadi bentuk tablet kecil atau dipadatkan seperti pupuk," katanya.

Ari memang akan melakukan penelitian lanjutan. Dia juga tengah bersiap mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) di Kota Lampung dalam waktu dekat ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Tapteng, Delta Pasaribu mengatakan, temuan siswa itu sangat inovatif dan juga mengingatkan semua pihak, khususnya para petani, bahwa cara tradisional juga bisa mengusir atau membunuh hama.

"Bahan alami tidak berbahaya terhadap lingkungan karena tidak ada residu kimia yang dihasilkan," katanya.

Pihak Dinas Pendidikan Tapanuli Tengah berharap segera dilakukan analisis terhadap temuan itu dan bisa dikomersialkan.

"Kami akan melakukan pendampingan terhadap inovasi-inovasi yang bermanfaat," katanya.