George Junus Aditjondro dan Pedang Bermata Dua Kultur Batak

Coky Simanjuntak | Sabtu, 10 Desember 2016 11:12:24

George Junu Aditjondro/riesalam.wordpress.com
George Junu Aditjondro/riesalam.wordpress.com

George Junus Aditjondro telah berpulang. Setelah lama menderita penyakit komplikasi, ilmuwan cum aktivis itu mengembuskan nafas terakhir di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (10/12) sekitar pukul 05.45 WIT.

Barangkali bukan kebetulan dia berpulang di peringatan Hari HAM Internasional yang jatuh hari ini. Sebab, banyak aktivisme perjuangan HAM di negeri ini, tak terkecuali di Tano Batak, mengenang jasa-jasanya.

Khusus di Tano Batak, aktivis yang pernah dicekal pemerintahan Soeharto itu pernah menulis analisis tentang perlawanan masyarakat Batak terhadap PT Indorayon (sekarang TPL), yang berjudul ‘Kultur Batak, Pedang Bermata Dua’.

Analis itu ditulis untuk pengantar buku Victor Silaen (2006) berjudul ‘Gerakan Sosial Baru: Perlawanan Komunitas Lokal pada Kasus Indorayon di Toba Samosir’.

(BACA: Suryati Simanjuntak, Separuh Hidup untuk Tano Batak)

Meski ditulis sebagai pengantar buku, George tetap mengkritisi tesis Silaen yang menyebutkan, akar budaya Batak sebagai spirit perjuangan rakyat melawan Indorayon, perusahaan penghasil bubur kertas dan rayon yang merusak lingkungan.

Bagi mantan dosen Unversitas Newcastle di Australia ini, budaya Batak justru bisa menjadi pedang bermata dua.

“Dalam hal tertentu budaya Batak bisa menjadi spirit gerakan anti-Indorayon, tapi pada saat yang sama budaya Batak dimanfaatkan untuk melindungi kepentingan perusahaan,” tulis George.

Dia menjabarkan, pemanfaatan budaya Batak ini salah satunya dengan cara pelibatan elite-elite dan organisasi Batak untuk melindungi kepentingan Indorayon.

(BACA: Tokoh-tokoh Batak Penentang Soeharto)

George bahkan merinci nama-nama elite Batak yang diangkat sebagai pimpinan perusahaan, berikut dengan analisis marga mereka.

“Tokoh-tokoh bermarga Butarbutar dan Manurung itu, potensial punya pengaruh kuat di Kecamatan Porsea (lokasi pabrik). Sebab, marga-marga terbesar di sana adalah Sirait, Manurung, Silaen dan Butarbutar,” tulis George.

Tidak hanya itu, George juga mengamati soal manipulasi adat 'pago-pago’, yang digunakan Indorayon untuk dapat menguasai tanah adat dengan uang penggati yang tak senilai.

Kini, Bung George telah berpulang. Jasamu untuk perjuangan HAM di Tano Batak pasti akan selalu kami kenang.