Dukun Ini Lakukan Ritual Cari Enjelika yang Ditelan Danau Toba 

Alex Siagian | Kamis, 01 Desember 2016 14:12:44

Seorang dukun dari Silaen, Tobasa, melakukan ritual mencari Enjelika Manurung/batakgaul
Seorang dukun dari Silaen, Tobasa, melakukan ritual mencari Enjelika Manurung/batakgaul

Pencarian Enjelika Manurung yang hilang di Danau Toba tidak hanya mengandalkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Basarnas (Badan Sar Nasional). 

Seorang dukun bermarga Simanjuntak juga diturunkan untuk menemukan gadis 14 tahun tersebut di pantai pasir putih, Desa Parparean I Kecamatan Porsea, Tobasa, Kamis (1/12). 

Datang dari Desa Simanobak, Kecamatan Silaen, Tobasa, dukun tersebut menggunakan kemeja putih yang sudah lusuh dan nyaris berwarna cokelat. Dia juga melilitkan sarung dan ulos yang juga sudah terlihat lusuh di tubuhnya. 

Warga sekitar yang ada di lokasi juga tak luput mengerumuni aksi sang dukun. Sambil berbicara seorang diri (seolah sedang berbicara dengan penunggu Danau Toba), dukun itu terus memandangi danau sambil memegangi cawan berwarna putih. 

Pantauan batakgaul.com, lokasi pantai pasir putih yang menjadi tempat tenggelamnya Enjelika, juga merupakan hulu Sungai Asahan. Titik tenggelamnya Enjelika hanya berjarak sekira 500 meter ke hulu sungai asahan yang melintasi Kecamatan Porsea, Kecamatan Pintu Pohan, hingga ke Kabupaten Asahan dan berujung di laut Tanjungbalai.

(BACA: Siswi Hilang di Danau Toba Sudah Ditinggal Orangtua Sejak 3 Bulan)

Enjelika Boru Manurung/batakgaul

 Sambil terus memandangi danau, sang dukun terus berbicara sendiri sambil berjalan di seputaran bibir pantai hingga ke hulu Sungai Asahan. Persis di hulu sungai itu, sang dukun kemudian berhenti. Dia duduk bersila dan memandangi ke arah Sungai Ahasan yang langsung dikelilingi masyarakat dan meletakkan cawan putih itu di hadapannya.

"Ale dongan natua-natua, unang ma dibahen ho gabe sipukka ni apim dongan nami manisia na met-met i. Nataoni pe dipangido ho do marga Napitupulu na mulak mandulo opung na tu bona ni pasogit on. Alai ala hupangido, ditiop ho do nasida di toru ni parhiteani asa unang salpu tu topi dolok na daoi. (Hey orang tua, jangan jadikan anak manusia itu jadi pembakaran api mu. Tahun lalu engkau juga mengambil marga Napitupulu yang pulang menemui nenek nya di kampung ini. Tetapi karena ku minta, kau tahan dia persis di bawah jembatan agar tidak hanyut hingga ke hilir sungai)," ujar dukun itu yang berbicara ke arah sungai.

"Ale dogan natua-natua, hu boto do na didolos tanduk ni horbo mi ho tu bagas ni tao on. Di bahen ho do on gabe bagas mu ate! Bagas ni Napitupulu do on ale natua-tua, dang bagas ni Manurung on. Hu pasahat pangidoan mi, alai paulak ma anak nami manisia i. (Hey orang tua, aku tau engkau ditarik tanduk kerbau mu ke danau ini. Kau buat ini jadi rumah mu ya! Ini rumah marga Napitupulu, bukan rumah marga Manurung. Ku berikan yang kau minta, tetapi kembalikan lah anak manusia itu)," lanjut si dukun sambil memecahkan 3 butir telur ayam kampung pakai pisau yang dimasukkan ke dalam cawan putih. 

Keluarga Enjelika Manurung histeris/batakgaul

Cawan itu kemudian ditaruh di pinggir sungai sebagai sesajen. Usai menyajikan telur itu, beliau kemudian meninggalkan lokasi.

"Nungga di son be nasida ale natua-natua. Unang lului hamu be hu hadaoan an, di son ma lului. (Dia sudah di sini, jangan lagi kalian cari di danau sana. Carilah di sini, dia sudah di sini)," ujar dukun kepada warga.

(BACA: Ompung Korban Tenggelam di Danau Toba: Mulak Ma Ho, Ngalian Annon)

Usai menyajika sesajen itu, awak media ini kemudian coba bertanya kepada seorang pria bermarga Manurung, warga sekitar lokasi yang sudah berusia 55 tahun. Dari pengakuan Manurung, yang dikatakan sang dukun memang benar. 

"Iya, berdasarkan cerita orang tua saya itu memang benar. Dulu di sini ada seorang laki-laki remaja yang menggembala kerbaunya. Tapi dia kemudian ditarik-tarik oleh kerbaunya itu hingga ke sungai ini hingga mati. Tapi saya pun nggak tau persis kapan kejadian itu, yang pasti itu sebelum saya lahir. Mungkin itu yang disebut Bapak (dukun) itu tadi," sebutnya.

Namun pernyataan itu tidak diketahui oleh orang tua lain bermarga Simangunsong yang sudah berusia 71 tahun.

"Kalau soal itu nggak ingat lagi aku bah, nggak taulah entah pas masa lajang saya dulu kejadiannya. Soalnya masa lajang saya diperantauan. Jadi nggak tau apa-apa yang terjadi di kampung ini," ujar Simangunsong.

Diberitakan sebelumnya, Enjelika Manurung terseret arus danau toba saat sedang asyik bermain-main bersama temannya, tepatnya di pantai pasir putih, danau toba, Desa ParpareanI, Kecamatan Porsea, Tobasa pada hari Rabu (30/11) siang.