Dua Tahun Setelah Sahat Gurning ‘menendang’ Garuda Pancasila

Maruli Simarmata | Selasa, 19 April 2016 01:04:51

Sahat Gurning ditahan di Mapolres Tobasa/Facebook
Sahat Gurning ditahan di Mapolres Tobasa/Facebook

Sahat Gurning barangkali tidak menyangka posting-annya di Facebook dua tahun lalu bakal membawanya ke penjara. Pada 12 Januari 2014, Sahat mengunggah foto dirinya yang sedang menendang lambang negara pada sebuah mural di pinggir Jalan Paritohan, Kecamatan Pintupohan Maranti, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa)

Tidak hanya itu, pada dinding akun Facebook-nya, mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) itu juga menulis status yang tajam mengkritik kondisi negara.

PANCASILA itu hanya ‘LAMBANG’ Negara Mimpi,” tulis Sahat kala itu.

Yang benar adalah Pancagila:

1. Keuangan Yang Maha Kuasa;
2. Korupsi Yang Adil Dan Merata;
3. Persatuan Mafia Hukum Indonesia;
4. Kekuasaan Yang Dipimpin Oleh Nafsu Kebejatan Dalam Persekongkolan dan Kepurak-Purakan;
5. Kenyamanan Sosial Bagi Seluruh Keluarga Pejabat dan Wakil Rakyat.

Semboyan: "BERBEDA- BEDA SAMA RAKUS."

Status Facebook Sahat Gurning.

Sahat akhirnya dijemput petugas Polres Toba Samosir (Tobasa) di rumahnya di Sosorladang, Desa Tangga batu I, Kecamatan Parmaksian, Tobasa, pada 12 April 2016 pukul 09.30 Wib atau tepat 27 bulan setelah postingan itu.

Setelah diperiksa, dia kemudian ditahan di Polres Tobasa atas tuduhan melanggar Pasal 154 A KUHPidana dan Pasal 57 UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan.

Sahat Tak Menyesal

Meski berada di balik jeruji, Sahat mengaku, sama sekali tidak menyesali perbuatannya di media sosial itu. Lewat kejadian ini, Sahat justru berharap bisa menyampaikan amanat kepada seluruh masyarakat Indonesia, agar benar-benar meneladani isi dan makna Pancasila yang sebenarnya.

“Saya tidak menyesal. Kalau dibilang ingin jadi tenar, silahkan. Tetapi kalau tidak begitu, suaraku, perjuanganku tidak didengar,” tutur Sahat keapda wartawan di Mapolres Tobasa, Rabu (13/4).

Sahat mengatakan, posting-annya itu bukan bentuk kebencian terhadap lambang negara. “Tetapi untuk sadarkan kemunafikan seluruh rakyat yang merasa berideologi. Saya tau Pancasila itu dasar negara. Tapi  apa kenyataanya? Sama dengan realita yang saya posting di Facebook,” ujar dia.

Sahat bercerita, posting-annya pada 12 Januari 2014 itu adalah bentuk kekecewaan pada pemerintahan SBY-Boediono kala itu.

“Saat itu pemerintahan SBY, dimana situasi pemerintahan yang tidak baik, banyak masalah, termasuk harga BBM yang naik turun,” urainya

“Untuk apa Pancasila kita junjung kalau untuk kemunafikan saja. Kalau tidak, diganti saja garuda jadi bebek nungging seperti kata Zaskia (Gotik),” ujar Sahat tentang penyayi dangdut yang di-bully karena menyebut lambang sila ke-lima Pancasila adalah bebek nungging.

Aksi Dukung Sahat

Mengetahui Sahat dibui, sejumlah rekannya sesama aktivis mahasiswa di Medan menggelar sejumlah aksi menuntut pembebasan. Menurut mereka, tindakan Sahat justru bentuk kekecewaannya terhadap banyak elite negara yang tidak berpedoman Pancasila.

“Itu hanya bentuk ekspresi kekecewaan Sahat,” ujar Wahyu Roseli Rajagukguk, koordinator demo di Bundaran Majestik, Medan, beberapa hari lalu.

Aksi dukung Sahat di Medan/Facebook

Tidak hanya di jalan, tuntutan pembebasan Sahat juga mengalir di dunia maya. Lewat petisi online, para pembuat petisi membandingkan sikap Sahat dengan Zaskia Gotik dan Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq.

“Sahat sangat berbeda dengan Zaskia Gotik yang mengolok-olok (melecehkan) Pancasila. Apalagi dengan Habib Rizieq  Ketua FPI yang jelas-jelas menghina Pancasila, namun dibiarkan bebas. Apa yang dilakukan Sahat S Gurning, sesungguhnya deskripsi kekecewaan dan protes kepada sebagian pejabat negara yang sarat dengan praktik korupsi.”