Dua ‘Kartini’ dari Tanah Batak  

Ester Napitupulu | Rabu, 20 April 2016 23:04:03

Butet Manurung-Basaria Panjaitan/Youtube
Butet Manurung-Basaria Panjaitan/Youtube

Pada Hari Kartini yang jatuh hari ini, 21 April 2016, banyak perempuan yang tampil mengenakan kebaya untuk memeringati kelahiran pejuang emansipasi perempuan tersebut. Sambil berbusana ala Raden Ajeng Kartini, mereka mengenang jasa pahlawan nasional perempuan dari tanah Jawa itu.

Berbicara soal tokoh pejuang perempuan, orang Batak juga memilikinya, meski mereka tidak berkebaya dan bergelar ‘Pahlawan Nasional’. Tanpa meninggalkan perannya sebagai seorang wanita, dedikasi yang tinggi para ‘Kartini’ Batak pada bangsa dan negara ini layak apresiasi.

Salah satu Kartini dari Tano Batak dalah Saur Marlina Manurung atau yang lebih dikenal Butet Manurung. Dia merupakan pendiri Sokola Rimba, sistem pendidikan untuk masyarakat rimba Suku Tubu yang mendiami Taman Nasional Bukit Dua Belas, Jambi.

Dalam mengajar, perempuan 44 tahun ini menerapkan metode yang bersifat setengah antropologis. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung dilakukan sambil tinggal bersama masyarakat didiknya selama beberapa bulan.

Sistem ini dikombinasi dengan mempertimbangkan pola kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Pola pendidikan ini membuat Butet terbiasa tinggal di hutan dalam waktu yang lama.

Butet Manurung/Blogspot

Pada 2004, Majalah TIME menganugerahinya ‘Heros of Asia Award’. Sepuluh tahu kemudian, Butet mendapat penghargaan Ramon Magsaysay 2014.

Keputusan ini diambil Majelis Wali Amanat Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF) pada 31 Juli 2014. Seperti dikutip dari situs resmi RMAF, Butet diganjar penghargaan sekelas nobel untuk kawasan Asia ini karena dinilai berjasa telah memperbaiki kehidupan orang rimba melalui pendidikan.

"Dia dikenal karena semangat mulianya untuk melindungi dan memperbaiki kehidupan orang rimba di Indonesia, dan menyalurkan energi kepemimpinan relawan dalam Sokola, program penyesuaian pendidikan yang sensitif terhadap cara hidup masyarakat adat dan tantangan pembangunan yang unik yang mereka hadapi."

Kisah perjuangan Butet dalam mendidik Suku Anak Dalam diabadikan lewat film ‘Sokola Rimba’ yang disutradarai Riri Riza (2013). Film itu banyak mendapat apresiasi dari masyarakat umum dan pegiat perfilman.

Kartini kedua dari Tano Batak adalah Basaria Panjaitan. Dia merupakan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2015-2019.

Tidak hanya itu, Basaria adalah perempuan pertama yang menjadi pimpinan lembaga pemberangus koruptor tersebut.

Sebelum bergabung ke KPK, karier perempuan kelahiran Pematangsiantar, 20 Desember 1957, juga cukup ngeri. Pensiun sebagai inspektur jenderal (bintang dua) juga menjadikan inang satu ini polwan berpangkat tertinggi sepanjang sejarah Polri.

Karier Basaria di kepolisian juga banyak dihabiskan di bidang reserse atau polisi (intelijen) penangkap penjahat. Karenanya, karier Basaria cukup jauh dari sorot kamera. Tidak seperti polwan-polwan mentel yang sering menjadi 'pemanis' di layar TV.

Basaria Panjaitan/Youtube

'Kesangaran' Basaria dapat dilihat saat berani memeriksa mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji, atas dugaan pelanggaran kode etik. Anak buah Basaria pun mengakui Basaria merupakan sosok yang tegas dan tak pandang bulu dalam memeriksa orang, sekalipun terperiksa adalah bekas bosnya sendiri.

“Dia tidak bisa diajak lobi-lobi," kata kata AKBP Dewi Hartati, anak buah Basaria.

Namun di sisi lain, ujar dia, Basaria adalah sosok yang lembut pada anak buah. “Anak buahnya seperti saya jadi bisa bekerja bisa maksimal tanpa tekanan,” kata Dewi. 

Soal rahasia kesuksesannya, Basaria memberi bocoran sedikit. Menurutnya, kunci sukses adalah kerjakanlah sesuatu pada porsinya. “Dalam kerja harus profesional, kita harus tahu kapan lembut, kapan tegas," kata Basaria.