Cerita Si Cantik Duma Simanjuntak Belajar di Ruang Tunggu Stasiun

Coky Simanjuntak | Jumat, 27 Mei 2016 18:05:14

Duma Mariana Simanjuntak/IG
Duma Mariana Simanjuntak/IG

Bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning service) tidak membuat Duma Mariana Simanjuntak (20) melupakan kuliahnya. Sebab, sejak awal, dia rela bekerja bersih-bersih di Stasiun Medan memang demi menggapai mimpinya untuk kuliah.

Dengan semangat tinggi, mahasiswi semester IV di International Business Management Indonesia, Medan ini sukses membagi waktu antara kuliah dan kerja. Buktinya, nilai indeks prestasi kumulatif (IPK)  3,75 dari angka maksimal 4.

Lalu, bagaimana cara Duma belajar di tengah keterbatasan waktu dalam bekerja?

Kepala Divisi Regional I PT KAI Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam, Saridal (52), bercerita selepas bekerja Duma selalu mengambil ruang tersendiri di lantai dua stasiun untuk belajar.

Tempat itu merupakan ruang tunggu calon penumpang yang ingin berangkat ke Bandara Kualanamu. Meja dan kursi yang sering dipakai Duma berada di pojok, agak menjauh dari deretan kursi calon penumpang.

”Anak ini sangat rajin bekerja dan sedang berjuang dari bawah,” kata Saridal seperti dilansir Harian Kompas 9 Mei 2015.

Boru Juntak ini bekerja setiap hari di Stasiun Medan dari pukul 07.00 hingga 15.00. Sementara dia mulai kuliah dari pukul 17.00 hingga 21.00. Rentang waktu dua jam (pukul 15.00-17.00) itulah yang dipakai Duma untuk belajar.

Dengan nilai IPK yang memuaskan, Duma menargetkan bisa menyelesaikan kuliah dalam waktu 3,5 tahun.

(BACA: Peraih Nilai UN Tertinggi Ini Kelak Ingin Punya Suami Batak)

Duma Mariana Simanjuntak/IG

Kerja keras 'Boru Panggoaran' dari pasangan Junian Simanjuntak dan Friska Sitinjak ini, berawal dari kesadarannya melihat sang ayah yang cuma pedagang di Pasar Sentral Medan. Sebagai anak sulung, Duma sadar ayahnya cukup berat untuk memenuhi kebutuhan tiga adiknya yang masih bersekolah. Apalagi, ibunya bekerja rumah tangga.

Itu makanya Duma bertekad hidup mandiri dengan bekerja sebagai petugas kebersihan untuk PT KAI di Stasiun Medan sejak 2013.

Meski sekarang masih menjadi petugas bersih-bersih stasiun, Duma sepertinya tidak mengenal kata mustahil. Cita-citanya terlalu tinggi untuk dibendung oleh rasa minder yang biasa dimiliki para rekan seprofesinya.

Ya, Duma bercita-cita ingin menjadi seorang pemimpin perusahaan. Itulah alasan mengapa dia memilih sekolah tinggi bisnis dan manajamen di Medan.

Cita-cita yang tidak mustahil, jika melihat kerja kerasnya. Bukankah banyak orang Batak yang dulu susah, tapi sekarang sukses di kota-kota besar karena terus bekerja keras..

Mungkin kelak Duma menjadi salah satunya...Amin.