Cerita Minar Sihite Didatangi Arwah Sebelum Temukan Aek Soda

Laurencius Simanjuntak | Sabtu, 12 November 2016 12:11:49

Minar Sihite di kolam pemandian Aek Soda miliknya/batakgaul
Minar Sihite di kolam pemandian Aek Soda miliknya/batakgaul

Pada mulanya adalah cinta kasih pada mertua. Bersama suami dan satu anaknya, Minar Sihite  akhirnya memutuskan pulang kampung ke Tarutung, Tapanuli Utara, untuk merawat sang mertua. 

Kala itu, 1965, mertua Minar yang tinggal di Jakarta memang sudah uzur. Usianya 90 tahun.

“Dia biang 'aku nanti meninggal di kampung, pulanglah kalian’. Tapi tidak ada (anaknya) yang mau pulang,” kenang Minar saat berbincang kepada batakgaul.com belum lama ini.

Dari delapan anak si ompung yang semuanya tinggal di Jawa, hanya Minar dan suaminya yang bersedia pulang. 

“Kasihanlah aku nengok mertua,” ujar Minar yang kala itu berusia 29 tahun.

Karena cinta kasih itu pula, Minar akhirnya memutuskan meninggalkan tugasnya sebagai bidan di Jakarta dan membuka praktik klinik bersalin di Tarutung.

"Itulah Tuhan yang suruh, 'pulanglah kau ke desamu'. Pulanglah kita ke desa, kita kontrakan saja rumah ini, kubilanglah begitu sama bapak,” cerita Minar.

Minar Sihite di kantin miliknya di atas kolam pemandian Aek Soda/batakgaul

Singkat cerita, setelah delapan tahun menetap di kampung, Minar tak sengaja jalan-jalan sebuah tempat angker di Desa Parbubu I, Tarutung, yang sekarang ramai dikunjungi banyak wisatawan karena terdapat pemadian air soda (aek soda).

“Dulu ini lebat dan angker, tidak ada yang berani mengelola,” ujar Minar sambil menunjuk ke arah kolam yang dipenuhi banyak orang berenang.

Sampai suatu saat, Minar memberanikan diri untuk mencicipi airnya. “Lho kok ada air soda,” kata Minar kaget saat itu. 

Setelah positif bahwa memang ada air soda di tempat air itu, Minar berdoa kepada Tuhan. “Ciptaan-Mu ini Tuhan akan saya rawat jadi mata pencaharian saya sampai turunan saya,” doa Minar saat itu.

[LIHAT VIDEO: Ini Cara Buat 'Kopi Sedap' yang Legendaris di Siantar]

Setelah berdoa, ada juga bisikan dalam hati Minar agar dia memberikan sesuatu buat leluhur yang menunggu tempat tersebut.

“Kubuatlah 7 kepal Itak Gurgur di atas daun pisang. Kubilanglah, kalian yang tinggal di sini yang tidak saya kenal, mohon tempat ini ditinggalkan. Ciptaan Allah ini akan saya rawat jadi mata pencaharian saya,” ujar dia.

“Inilah penghormatan saya untuk kalian,” kata Minar sambil menaruh 7 kepal Itak Gurgur tersebut.

Pada malam harinya, Minar tidak menyangka didatangi arwah leluhur bermarga Tobing.

“Dia (arwah marga Tobing) sudah jauh di atas kami, sudah 14 generasi,” kata Minar.

Kepadanya, arwah itu mengatakan: "Bukalah tempat ini. Emas, intan, berlian ambilah dari dalam air. Tapi janji tidak boleh ngomong kotor di sini, tidak boleh telanjang biar anak kecil, tidak boleh bikin penginapan. Di sini harus hormat!"

(BACA JUGA: Air Terjun Tertinggi di Indonesia Ini Ada di Toba Samosir)

Setelah menuruti perjanjian itu, besoknya Minar langsung memanggil 4 orang bapak-bapak muda untuk membangun pemandian aek soda. Tepatnya tahun 1973.

“Jadi kalau baru-baru lihat, (pemandaian ini) kayak kubangan kerbaulah. Tidak nampak air, tapi ada air keluar,” katanya. 

“Kuambil dan kujualah batu dari sini dua truk, barulah banyak timbul mata air itu,” imbuh Minar.

Dia mengatakan, banyak khasiat dari air soda yang dikelolanya itu.  “Kalau hanya mandi, obat mandi, obat mata, obat gatal-gatal badan,” ujarnya.

[LIHAT VIDEO: Anak-anak Parapat Berenang Cari Koin Jelang Konser Slank]

Sedangkan kalau diminum, bisa untuk obat rematik, asam urat dan pengapuran.

“Tetapi jangan dimasak. Itu (hasil) pemeriksaan dokter dari bandung dan Yogya,” ujarnya.

Kolam Pemandian Aek Soda/batakgaul

Minar mengaku meminum setiap pagi air soda dari kolamnya saat belum ada orang yang berenang. 

“Lihat saya masih sehat, membaca juga saya tidak perlu kaca mata,” ujar Minar yang kini berusia 80 tahun itu.

Minar bercerita pernah suatu waktu, beberapa orang dari Venezuela datang ke kolamnya. Menurut mereka, di dunia hanya ada dua mata air soda. Pertama di negara mereka, Venezuela dan kedua adalah milik Minar di Tarutung.

“Tapi mereka bilang, kolam di sana tidak bisa direnangi karena panas sekali. Kalau di sini nikmat sekali” kata Minar menirukan orang asing itu.