Cerita Keramat 'Mual Sirambe' dan Ikan Batak yang Pantang Diambil

Alex Siagian | Selasa, 06 Desember 2016 12:12:00

Ikan Batak di Mual Sirambe Nauli/alex siagian (batakgaul)
Ikan Batak di Mual Sirambe Nauli/alex siagian (batakgaul)

Meski dinyatakan terancam punah, Ikan Batak ternyata masih banyak ditemui di Mual Sirambe Nauli. Tempat wisata di Dusun Sitatuan, Desa Bonan Dolok, Kecamatan Balige, Kabupaten Tobasa ini memang dikenal sebagai tempat berkumpulnya ikan yang konon merupakan makanan raja-raja Batak. 

Sesuai namanya Mual Sirambe Nauli (mata air dari hutan Sirambe yang indah), air sungai di lokasi wisata ini sangat bersih. 

Saat batakgaul.com mengunjungi lokasi ini, Minggu (4/12), terlihat banyak sekali Ikan Batak yang bersarang di bawah batu besar, yang juga tempat munculnya mata air. 

Ikan Batak memang dikenal suka hidup di air deras, namun di air tenang Mual Sirambe Nauli, ikan bernama latin Neolissochilus thienemanni ini tetap betah.

(BACA: Ikan Batak, Makanan Raja-raja yang Terancam Punah)

Ikan Batak di Mual Sirambe Nauli/alex (batakgaul)

Kelestarian alam dan masih banyaknya Ikan Batak yang langka di tempat ini tidak terlepas dari nasihat (poda) orangtua dulu agar jangan sekali-kali mengambil ikan dari dalam sungai.

Jika nasihat itu dilanggar, maka diyakini akan mendatangkan marabahaya. Nasihat itu dituruti hingga ke generasi sekarang. 

Sejarah Huta

Huta (desa) Bonan Dolok, yang menjadi lokasi Mual Sirambe Nauli, pertama kali diduduki oleh Ompung Pantun Siagian pada tahun 1700-an. Dia bermukim dan hidup di desa ini hingga punya keturunan. 

Saat itu konon sungai ini masih sangat angker dan dianggap keramat, sehingga orangtua selalu menyampaikan nasihat kepada keturunannya agar tidak mengambil ikan dari dalamnya. 

Tidak ada yang tau pasti kenapa orang tua terdahulu melarang anak-anaknya untuk mengambil ikan dari sungai ini. Bahkan saking keramatnya, orang tua dulu juga melarang anaknya mandi di sungai ini di bawah pukul 5 sore. 

Tak hanya itu, sungai ini juga masih dipenuhi semak belukar dan hutan belantara. Konon, warga desa di sini tidak ada yang berani membersihkan atau menebang pohon di lokasi ini. 

Mual Sirambe Nauli/alex (batakgaul)

Sungai ini juga dipercaya bisa mengobati beberapa penyakit. "Jadi sering orang-orang dari luar datang ke sini untuk berobat. Tak hanya itu, beberapa warga dari luar daerah juga sering datang meminta doa ke sungai ini," sebut Ompung Demak Siagian  (74).

Kisah lain yang pernah disaksikan langsung oleh masyarakat masa kini adalah pasangan muda/i yang pernah hilang dari sungai itu sekira tahun 2015. 

Menurut Spartan Siagian (35), saat itu ada dua pasangan muda-mudi yang datang ke sungai itu. Warga sebelumnya sudah mengingatkan agar mereka tidak berbuat dan bertindak macam-macam. Namun pasangan tersebut ini diduga melakukan hal yang tidak lazim, hingga si perempuan itu hilang. 

Ketiga temannya kemudian sibuk mencari wanita itu namun tak kunjung ditemukan. Hingga akhirnya mereka melapor kepada warga sekitar dan masyarakat kemudian coba bertanya kepada orang pintar, Sarni Boru Siagian. 

Saat itulah, Sarni melakukan ritual hingga menunjukkan lokasi persembunyian wanita itu. Warga kemudian mencari wanita itu ke lokasi yang ditunjuk oleh Sarni. 

"Dan akhirnya wanita itu kita temukan di kolong rumah masyarakat," sebut Spartan, Kepala Dusun Sitatuan. 

Mitos Seorang Putri

Dari cerita yang disampaikan oleh Ompung Demak Siagian  (74), dahulu kala Raja Siagian memilik tiga orang putri, dan putri keduanya tidak kunjung menikah. 

Saat itu, putri keduanya ini telah memiliki tambatan hati, namun ia diminta orangtuanya untuk menikah dengan lelaki lain. Saat itulah, putri tersebut pergi ke sungai ini untuk marhilolong (berdoa kepada Tuhan agar dinikahi pria yang dicintai) sambil menangis-nangis. 

Putri tersebut kemudian berubah menjadi batu, dan  sejak itulah sungai tersebut dihuni banyak ikan. 

"Sampai sekarang, batu tersebut dikeramatkan dan tidak boleh diinjak atau diduduki oleh siapapun,” kata Ompung Demak.

Batu keramat di Mual Sirambe Nauli/alex (batakgaul)

Diceritakannya lagi, pada masa penjajahan dulu, ada tentara Belanda pernah mengambil ikan dari sungai ini untuk dikonsumsi. “Namun hasilnya ikan itu hanya matang sebelah,” ujarnya.

Hal itu kian memperkuat keyakinan masyarakat setempat untuk tidak mengambil ikan dari sungai ini.

"Kalau soal sejarah pastinya tidak ada yang mengetahui. Yang pasti sungai ini dikeramatkan dan batu itu tidak boleh diduduki atau diinjak oleh siapapun. Ikan di sini juga tidak boleh diambil," tegas Ompung Demak.

Kisah lain yang diceritakan oleh Ompung Rimalni Br Siagian (74), bahwa zaman dahulu, ada orang tua yang menemukan Ikan Batak seukuran gordang (gedang) atau sekira 1 meter.

Kondisi ikan saat itu sudah berlumut pada bagian punggungnya. Itulah yang dipercaya menjadi induk dan asal muasal Ikan Batak yang kini ramai di sungai itu. 

Objek wisata Mual Sirambe/alex (batakgaul)

Sejak saat itu, kata Ompung Rimanlni, orang tua zaman dulu sudah langsung mengeramatkan ikan tersebut dan tidak boleh diambil.

"Itulah yang saya tahu, cerita itu adalah cerita ibu saya kepada saya," sebutnya.

Terlepas dari sejarah asal muasal sungai dan ikan yang ada di sana, hingga saat ini masyarakat sekitar masih berkeyakinan soal ikan di sungai itu yang tidak bisa diambil. 

"Seperti apapun sejarah sungai itu, yang pasti kami masih menjalankan nasihat orang tua terdahulu. Kami selalu menurunkan pesan itu kepada anak-anak kami, dan sampai sekarang Kami tidak pernah mengambil ihan dari sungai itu," sebut Ompung Martin (65).

Menurut Ompung Martin, pada masa kanak-kanak nya, sekira tahun 1970-an, ikan di sungai itu masih sangat banyak dan berukuran besar. Saat itu, kondisi sungai itu masih sangat semak. 

Hingga pada tahun sekira 1975, Ompung Lumongga Siagian mulai membabat dan membersihkan sungai itu. Saat itu, menurutnya, Op. Lumongga berani membabat sungai itu karena telah mendapat perintah melalui mimpi.

"Sejak itulah warga mulai berani membersihkan sungai itu. Sebelum itu lokasi ini masih sangat semak dan seram," sebut Ompung Martin.

Milik Ompung Sumurung

Sejak Ompung Pantun menduduki kawasan Bonan Dolok, dia memiliki 5 anak laki-laki, yakni Ompung Panarsar, Ompung Rumiam, Ompung Sidomdom, Ompung Lumpat, dan Ompung Bala Bulan. 

Ompung Lumpat yang memiliki dua anak, yakni Ompung Soaduan dan Ompung Sumurung, menetap di dusun Sitatuan. Kemudian anak kedua anak Ompung Lumpat, yakni Ompung Sumurung menduduki lokasi sungai Rambe dan kemudian menasbihkan sungai itu sebagai miliknya. 

Kelak sungai itu akan menjadi milik keturunannya untuk dijadikan sumber kehidupan seperti tempat mengambil air, mandi, mencuci dan mengairi sawah. 

Tugu peresmian Mual Sirambe Nauli/alex (batakgaul)

Tahun 1953, sungai ini diresmikan oleh keturunan Ompung Sumurung dengan melakukan acara adat gondang selama tiga hari.

Kemudian pada tahun 1995, kawasan sungai itu kembali dipugar 

oleh TB Silalahi yang turut dihadiri oleh Edy Sudrajat dan keturunan Ompung Sumurung. 

Fenomenalnya Mual Sirambe Nauli pernah dituliskan oleh Halasan Tampubolon menjadi sebuah lagu berjudul 'Mual Sirambe' dan dinyanyikan artis batak, Robert Simorangkir.