Cerita Ilham Nasution Kena DO Unimed karena Mobilisasi Maba

Tuntun Siallagan | Kamis, 08 Desember 2016 00:12:48

Kampus Unimed/unimed.ac.id
Kampus Unimed/unimed.ac.id

Seorang mahasiswa Universitas Negeri Medan (Unimed), Ilham Rizki Nasution, diberhentikan (drop out) karena diduga memobilisasi mahasiswa baru (maba) tanpa izin dari kampus.

Tak hanya Ilham, 11 mahasiswa lainnya juga diskorsing selama satu semester atau sanksi pembatasan 12 SKS.

Informasi yang diterima batakgaul.com, pemecatan dan pemberian sanksi kepada ke-12 mahasiswa-mahasiswi tersebut bermula saat mereka membuat 'Kegiatan Belajar Bersama Alam' di Sibolangit, Sumatera Utara, beberapa waktu  lalu.

Adapun kegiatan tersebut merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiswi dalam menyambut mahasiswa/i baru yang baru masuk di jurusan Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Unimed. Namun, kegiatan tersebut mendadak diberhentikan oleh pihak kampus.  

Saat itu Dekanat Fakultas Ilmu Sosial Unimed datang ke lokasi diadakannya kegiatan untuk menjemput mahasiswa-mahasiswi baru.

"Awalnya kami membuat kegiatan tanggal 23 sampai tanggal 25 September yang lalu di Sibolangit, saat itu belum ada surat edaran dari kampus untuk melarang memobilisasi mahasiswa," ujar Ilham Rizki Nasution kepada batakgaul.com, Selasa (7/12) malam.

Setelah tiba waktu yang ditentukan, para panitia berkisar 200 mahasiswa/i pun berkumpul di seputaran Rumah Sakit Haji Medan yang tidak terlalu jauh dari kampus Unimed. Turut juga hadir saat itu mahasiswa/i baru yang berjumlah lebih dari 100 orang.

Saat hendak berangkat ke tujuan, pihak kampus kemudian datang supaya menggagalkan rencana mereka. Akan tetapi panitia dan para mahasiswa/i baru tetap berangkat karena sudah dipersiapkan dengan matang.

"Setelah berada di Sibolangit, pihak kampus kembali datang dan mengatakan supaya acara digagalkan dan peserta kembali. Tapi kami panitia merasa bertanggung jawab dan menolak ajakan itu," tambahnya.

Keesokan harinya, lagi-lagi pihak kampus datang menemui mereka. Setelah dilakukan negoisasi dan berencana memilih membicarakan masalah tersebut di kampus, para panitia dan peserta pun menuruti permintaan mereka dan pulang ke Medan.

"Setibanya di kampus ternyata tidak ada pembahasan, lalu kemudian pada tanggal 27 September saya langsung diskors 2 semester. Baru kemudian terjadi pemecatan. Panitia yang lain juga diskors," ujar Ilham.

Panitia Melapor

Merasa diperlakukan tidak wajar, Ilham beserta 11 temannya yang lain memilih memperjuangkan hak mereka. Kemudian mereka melaporkan permasalahan tersebut kepada Koalisi Rakyat Anti Kriminalisasi Sumatera Utara (Korak Sumut).

Mereka berharap pihak kampus mau mengajak mereka kembali berdiskusi terkait masalah tersebut. Bukan malah membiarkan mereka diberhentikan dan temannya yang lain mendapat skorsing dari pihak kampus.

"Kami berharap mendapat solusi," ujar Ilham.

Koordinator Korak Sumut, Gumilar Aditya Nugroho mengecam tindakan pembungkaman demokrasi dan berekspresi di kampus oleh rektor Unimed yang berujung pemecatan (DO) dan skorsing terhadap 11 mahasiswa Unimed tersebut.

"Kami menganggap kejadian ini sebagai bentuk pembungkaman gerakan mahasiswa dalam menjalankan fungsi agent of change and of control social-nya sebagai mahasiswa dan jelas lari dari prinsip Tridarma Perguruan Tinggi," ujarnya.

Oleh karena itu, ditambahkannya, atas dasar masalah ini hendaknya menjadi momentum evaluasi bagi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk lebih memperhatikan keadaan Lembaga Pendidikan Indonesia khusunya di Sumatera Utara.

"Kami menuntut suapaya dicabut Surat Keputusan Rektor Unimed atas pemecatan 1 orang mahasiswa Unimed atas nama Ilham Riziki. Kemudian cabut surat skorsing terhadap 11 mahasiswa Unimed dan menyatakan mahasiswa tersebut kembali aktif," tambahnya.

Terpisah, Hubungan Masyarakat Kampus Unimed, M. Surip, mengaku kalau sanksi yang mereka berikan sudah terlebih dahulu dilakukan berbagai analisis.

"Pertama, mereka melanggar peraturan yang ditentukan kampus. Yakni membuat kegiatan tanpa izin dan memobilisasi mahasiswa. Kemudian mengutip dana, padahal pengeluaran biaya hanya untuk uang kuliah. Itu tidak diperbolehkan pemerintah,” ujar Surip kepada batakgaul.com, Selasa (7/12).

Kemudian yang kedua, dijelaskannya, saat mahasiswa/i disuruh pulang oleh pihak kampus, para panitia yang diberi sanksi malah memobilitasi mahasiswa supaya melakukan penolakan. Atas dasar itu, mereka pun memberikan sangsi kepada panitia.

"Kemarin juga sudah kita panggil orangtua mereka, tapi tidak datang. Kita tidak langsung memberikan sangsi, melainkan sudah terlebih dahulu melakukan analisis oleh pihak fakultas," tambahnya.