Cerita Bang Ara Ditanya Gus Dur ‘Kenapa Orang Batak Bisa Menang?'

Coky Simanjuntak | Senin, 12 Desember 2016 11:12:34

Maruarar Sirait/batakgaul
Maruarar Sirait/batakgaul

Meski lahir di Medan, Sumatera Utara, Anggota DPR Maruarar Sirait terpilih dari daerah pemilihan Jawa Barat IX (Majalengka, Subang dan Sumedang). Bahkan, dia menjadi peraih suara terbanyak di wilayah pasundan tersebut.

Soal kemenangan ini, almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pernah bertanya kepadanya tentang bagaimana seorang Batak non-Muslim bisa menjadi juara di wilayah dengan mayoritas Sunda-Muslim.

"Saya jawab, 'Gus, saya temukan Islam yang bersahabat, terbuka, dan cinta perdamaian. Dan akhirnya saya terpilih'. Saya sampaikan apa adanya, kata Ara, sapaan akrabnya, saat diudang sebagai pembicara dalam Sekolah Pemimpin Nasional (SPN) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) di Ancol, Jakarta, belum lama ini.

Politikus muda PDI Perjuangan ini bercerita, sudah 12 tahun menjadi wakil rakyat dari wilayah Majalengka, Subang dan Sumedang.

"Ratusan kali saya masuk musala, masjid, Islamic Center, di mana saya rasa aman dan nyaman, kata Ara yang disambut tepuk tangan para intelektual muslim yang hadir.

Maruarar Sirait dan istrinya, Sinta Boru Sidabutar di Balige/batakgaul

Ara mengatakan, seorang politikus harus bisa melakukan pendekatan secara kultural terhadap masyarakat, apapun latar belakang mereka. 

Belum lagi, lanjut dia, menjadi politikus yang menginspirasi karena memperjuangkan kebenaran sejati bukanlah hal yang mudah.

"Tak ada pemimpin yang lahir dari sebuah kemanjaan. Seorang pemimpin harus punya landasan ideologi, punya prinsip yang dipegang teguh, serta harus berkarakter dan konsisten," ujarnya.

Putra sulung politikus senior Sabam Sirait ini memberi salah satu contoh pemimpin tersebut adalah Nelson Mandela. Sementara untuk konteks Indonesia, menurut Ara, adalah Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. 

Meski keduanya berbeda secara politik, tetapi bersatu ketika menyangkut urusan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

"Jika ingin menjadi politisi yang handal, belajarlah dari kedua tokoh bangsa itu," kata Ara.

SPONSORED
loading...