Cerita Adian Tolak Hapus 'Napitupulu' Saat Nyaleg di Bogor

Coky Simanjuntak | Selasa, 29 Agustus 2017 17:08:06

Adian Napitupulu/lauren
Adian Napitupulu/lauren

Marga bagi orang Batak adalah identitas yang pantang dihapus. Itu pula yang dipegang betul oleh anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu.

Mantan aktivis 98 ini bercerita, pernah saat pencalegan di 2014 seorang temannya memintanya menghapus ‘Napitupulu’ di belakang namanya. Sebab, dikhawatirkan masyarakat Kabupaten Bogor (Jabar V), yang menjadi daerah pemilihan Adian, akan menolak keras orang Batak menjadi calon wakilnya.

“Teman ini minta agar saya ngirim surat ke KPU untuk mengganti nama saya disurat suara. Dari Adian Yunus Yusak Napitupulu menjadi A. Yunus Yusak N.,” cerita Adian dalam diskusi di Kantor DPP Taruna Merah Putih, Jakarta, belum lama ini.

Tidak berpikir lama, Adian pun menolak permintaan temannya yang juga seorang konsultan politik tersebut.

Sorry banget Bro, untuk satu ini gue tolak,” kata Adian menirukan perkataannya saat itu.

“Bapak saya meninggal saat saya 11 tahun. Tidak meninggalkan harta, rumah ataupun tanah. Warisan bapak saya ya cuma marga ini,” kata Adian.

Saat kampanye, Adian bercerita, banyak tantangan yang dihadapinya sebagai seorang caleg dengan identitas Batak dan juga Kristen.

“Stiker saya ditulis ‘Batak’ di bagian dada, dan salib di jidadnya,” kata Adian.

Hal ini pun membuat rekan-rekan Adian di tim pemenangan berang. Namun, reaksi Adian justru berlawanan.

“Mau marah kan gak mungkin, memang benar (Batak Kristen). Jadi, jalan aja terus,” kata Adian.

Dengan tantangan itu, Adian mengatakan, timnya justru semakin bersemangat berkampanye dari pintu ke pintu (door to door) dan mendatangi hajatan warga Bogor setiap pekan.

“Tangan saya sampai pegel nyalamin warga. Tapi ya itu cara saya merebut hati rakyat, karena saya tidak punya cukup uang membuat poster yang besar-besar,” ujar Adian membandingkan dengan caleg lain dengan modal besar.

“Saya yakin kalau orang tidak punya uang, dia semakin kreatif,” ujar Adian disambut tawa.

Alhasil, Adian yang pernah gagal di Pemilu 2009 pada dapil yang sama, berhasil menembus Senayan di 2014. Dia mengaku cuma menghabiskan Rp 1,1 miliar untuk kampanye.

“Kabupaten Bogor itu punya 434 desa dan 40 kecamatan. Jadi kalau dihitung saya menghabiskan Rp 2 juta/desa. Murah atau tidak?” tanya Adian.

“Murahhhh,” teriak para hadirin yang kebanyakan aktivis yang ingin mengikuti jejak Adian.