Bah! KPK Hadirkan Ahli Bahasa Batak Toba di Sidang Korupsi

Ester Napitupulu | Kamis, 04 Agustus 2016 08:08:01

Ilustrasi sidang korupsi/kln
Ilustrasi sidang korupsi/kln

Jaksa dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin mendatangkan Warisman Sinaga, seorang ahli bahasa Batak Toba, ke sidang lanjutan kasus dugaan suap dua petinggi PT Brantas Abipraya kepada Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Sudung Situmorang, dan Asisten Pidana Khusus Kejati DKI Jakarta, Tomo Sitepu.

Keahlian Warisman dipakai jaksa untuk membuktikan bahwa Sudung, lewat sebuah pesan di Blackbery Messenger (BBM), memang melarang Marudut Pakpahan, perantara suap, untuk datang menemuinya karena mendapatkan informasi tidak baik.

Selain itu, Jaksa KPK juga berupaya membuktikan, Sudung memiliki motif sekaligus tahu bahwa Marudut akan menyerahkan sesuatu kepadanya pada 31 Maret 2016.

(BACA: Sejarah Orang-orang Batak Pimpin KPK)

Semua keterangan itu digali dengan menampilkan petikan percakapan BBM antara Marudut dan Sudung di dalam sidang lanjutan kasus dugaan suap tersebut di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (3/8).

Unang ro saonari mundur adong info naso denggan hati-hati. Apa artinya ini?” tanya jaksa Abdul Basyir kepada Sudung saat dikonfirmasi mengenai petikan percakapannya dengan Marudut.

Sudung mengatakan, dia melarang Marudut datang menemuinya hari itu karena merasa tak enak badan. Ia juga berpesan agar Marudut hati-hati.

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, Sudung Situmorang (kanan).

Namun, jaksa tidak cepat percaya, dan terus mengejar serta fokus pada kalimat dalam bahasa Batak Toba tersebut. Sebab, ada kecurigaan bahwa Marudut dilarang datang menyampaikan uang suap kepada Sudung lantaran Sudung mendengar informasi mengenai adanya operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK pada hari tersebut.

Pada 31 Maret lalu, KPK memang menangkap tangan Marudut, Sudi Wantoko, dan Dandung Pamularno. Dari tangan Marudut, KPK menyita uang Rp 2 miliar. Ia ditangkap saat berada dalam perjalanan menuju Kejati DKI Jakarta untuk menemui Sudung. 

(BACA: 4 Alasan Orang Batak Banyak Berprofesi di Bidang Hukum)

Namun, sebelum uang itu sampai ke tangan Sudung dan Tomo Sitepu, Marudut tertangkap. Uang itu diduga berasal dari Sudi Wantoko dan Dandung Pamularno. Sudi dan Dandung meminta tolong Marudut agar membantu mereka mengurus perkara itu di Kejati, yakni dengan menyuap Sudung dan Tomo.

Nah, kepada jaksa, Warisman menjelaskan arti kalimat bahasa Batak Toba tersebut. Menurut dia, kalimat itu bermakna larangan kepada seseorang untuk datang atau membatalkan janji bertemunya karena pihak lainnya mendengar berita atau informasi yang tidak baik.

”Apakah ada makna ’sakit’ atau ’tidak enak badan’ dalam kalimat itu?” tanya Jaksa Basyir. 

Warisman menyatakan, tidak ada makna yang berhubungan dengan kesehatan di dalam kalimat tersebut.

SPONSORED
loading...