Bah! Batu Hobon Tempat Harta Peninggalan Raja Batak Terbelah

Coky Simanjuntak | Minggu, 30 Oktober 2016 16:10:41

Batu Hobon/FB: Enni Martalena Pasaribu
Batu Hobon/FB: Enni Martalena Pasaribu

Batu Hobon, yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan harta peninggalan Raja batak, terbelah. Kabar terbelahnya situs sejarah yang terletak di Desa Limbong Sagala, Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir ini tersebar lewat media sosial.

Adalah akun Facebook Enni Martalena Pasaribu yang menyebarkan informasi tersebut. 

Situs bersejarah Batu Hobon di Sianjur Mula-mula Kabupaten Samosir milik keturunan Op. Guru Tatea Bulan yang berusia ribuan tahun. Seperti terlihat digambar batu sudah terbelah,” tulis Enni pada Jumat (28/10).

Dari foto yang diunggah Enni memang tampak situs sejarah tersebut sedang dipugar.

“Dalam mengerjakan proyek ini apakah sudah ada musyawarah? Siapa yg bertanggungjawab atas ini? Seharusnya dijaga keasliannya,” kata Enni yang menjadi Ketua Panitia Hari Ulos Nasional 17 Oktober lalu.

"Sedih melihatnya,” keluhnya.

(BACA: Pemkab Samosir Bantah Batu Hobon Terbelah)

Batu Hobon/samosirwisata.files.wordpress.com

Hobon dalam Bahasa Batak artinya peti. Batu ini berdiameter sekitar satu meter dengan bagian bawah berongga. Diperkirakan batu ini merupakan sebuah lorong yang mungkin saja berbentuk goa. 

Menurut Cerita yang beredar di Masyarakat Batu Hobon adalah buah tangan Raja Uti untuk menyimpan harta kekayaan orang Batak. Namun jangan sekali-kali membukanya karena konon mereka yang mencoba akan mendapatkan nasib sial.

Dipercaya ada banyak harta berharga peninggalan Raja batak di dalam Batu Hobon ini. Seperti Gondang Saparangguan (Seperangkat Gendang Batak), Pagar (Ramuan penangkal penyakit), hujur sumba baho (tombak bertuah), piso solom Debata (pedang bertuah), pungga Haomasan (Batu Gosok Emas), tintin Sipajadi-jadi (Cincin Ajaib), tawar Sipagabang-abang, Sipagubung-ubung, Sipangolu na Mate, Siparata Naung Busuk (Obat yang mampu menghidupkan yang sudah mati, serta menyegarkan kembali yang telah busuk). Pagar, Hujur Sumba Baho, Piso Solom Debata, Pungga Haomasan, Tintin Sipanjadi-jadi dan Tawar, semua dibungkus dengan buku lak-lak atau buku Pustaha, yaitu Buku Ilmu Pengetahuan tentang kebudayaan Batak, yang di tulis dengan aksara Batak.