Anak Medan Lolos dari Hukuman Mati di Malaysia

Coky Simanjuntak | Kamis, 29 Desember 2016 10:12:13

Ilustrasi
Ilustrasi

Seorang warga negara Indonesia asal Serdang, Medan Utara, Sumatera Utara, Muhammad Taufik Hidayat (35), lolos dari hukuman mati di Malaysia.

Seperti dikutip Antara, Rabu (28/12), Hakim Pengadilan Tinggi Alor Star Kedah Malaysia, Arif Abu Bakar Bina Katar meloloskan hukuman mati kepada ‘Anak Medan’ tersebut karena kesaksiannya bisa diterima.

Setelah lolos dari hukuman mati, Taufik yang menjadi terdakwa kasus penyelundupan 2.081,8 gram sabu ini kemudian ditahan oleh imigrasi untuk proses dokumentasi.

Ketua Satgas Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur, Yusron D Ambary, membenarkan infromasi mengenai WNI yang lolos dari hukuman mati pada sidang Pengadilan Pertama di Alor Star Kedah.

Dalam kesaksian tertulis yang beredar di kalangan wartawan, Taufik mengatakan sebelum kejadian, dia hanyalah seorang penjaja mi goreng.

Taufik mengatakan sekitar Juli 2014 kawannya yang bernama Iwan menghubungi dirinya dan menawari pekerjaan.

Iwan memberitahukan pekerjaan tersebut memerlukan kehadiran Taufik ke Thailand untuk memperoleh sampel baju dan sepatu. Iwan pernah cerita kepada Taufik kalau dirinya mempunyai usaha baju secara online.

"Saya menerima tawaran kerja tersebut. Iwan menyuruh saya ke Bangkok untuk mendapatkan baju kanak-kanak dan sepatu wanita dengan menjumpai temannya bernama Dedi. Saya juga disuruh mencari sampel baju di Thailand di beberapa tempat di Thailand. Iwan memberitahu akan mengirim gambar-gambar melalui 'handphone'," katanya.

Sebelum ke Bangkok Iwan telah memperkenalkan Taufik kepada kawannya April Naldi untuk menguruskan semua persediaan sehubungan pekerjaan tersebut.

April memberikan satu lembar kartu ATM kepada Taufik untuk uang belanja selama perjalanan.

"Saya ke Bangkok 3 Agustus 2014. Setelah di Bangkok saya menginap di sebuah hotel yang saya lupa namanya. Pada 4 Agustus, Iwan menghubungi saya dan bilang kalau kawannya bernama Dedi akan datang menyerahkan baju kanak-kanak sepatu-sepatu wanita baru ke saya," katanya.

Taufik melanjutkan Dedi kemudian datang dan menyerahkan sebuah tas dan mengatakan tas tersebut berisikan baju kanak-kanak serta sepatu wanita kepunyaan Iwan kepada dirinya.

"Saya membuka tas tersebut hanya tampak baju kanak-kanak dan sepatu wanita seperti disampaikan Iwan. Saya yakin tas tersebut tidak ada masalah. Setelah itu saya mengambil tas tersebut," katanya.

Setelah menerima tas, Taufik diminta Iwan untuk pergi ke Hat Yai untuk mencari pakaian yang murah.

"Saya naik bus dari Bangkok ke Hat Yai. Tas yang saya bawa dari Indonesia telah ditinggalkan di Bangkok karena saya akan balik ke Bangkok untuk naik kapal terbang balik ke Indonesia pada 20 Agustus 2014," katanya.

Setelah tiba di Hat Yai, ujar dia, dia sudah menyampaikan kepada Iwan kalau dirinya akan pergi ke Kuala Lumpur menengok adiknya dan akan kembali ke Thailand setelah itu.

Kemudian dirinya membeli tiket bus di Hat Yai untuk bertolak ke Kuala Lumpur.

"Setelah tiba di Imigrasi Bukit Kayu pada 5 Agustus 2014, saya turun dari bus dan pergi ke loket Imigrasi. Setelah itu saya membawa tas dan meletakkan tas untuk diperiksa. Kemudian dua pegawai ingin memeriksa tas. Saya sampaikan itu tas teman saya," katanya.

Setelah pemeriksaan tersebut dirinya diberitahu kalau dirinya ditahan dan dibawa ke kamar oleh dua orang. Petugas mengatakan dirinya ditahan karena ada barang mencurigakan.

"Pegawai yang membongkar tas saya mengatakan ada sabu di dalam tas. Saya terkejut dan saya berkali-kali memberitahu bahwa saya tidak tahu kalau ada sabu-sabu. Saya sampaikan ada nomor HP Iwan di HP yang dibawa petugas tetapi mereka tidak menghiraukan," katanya.

Taufik mengatakan keterangan tertulis yang disampaikan kepada petugas pengadilan tersebut adalah benar sepanjang pengetahuan dan kepercayaan dirinya.