Tujuan Utama Pernikahan Batak adalah Punya Anak!

Ester Napitupulu | Minggu, 24 April 2016 17:04:43

Ilustrasi Bayi Batak/morrissuroso.files.wordpress.com
Ilustrasi Bayi Batak/morrissuroso.files.wordpress.com

Di tengah tantangan hidup yang semakin berat, banyak pasangan suami istri, utamanya di perkotaan menunda-nunda untuk punya anak. Bahkan, beberapa pasangan berani mendeklarasikan tidak ingin punya keturunan, kendati mereka tidak punya persoalan ‘kesuburan’.

Alasan mereka pun cukup beragam. Mulai dari soal ekonomi, hingga ingin fokus dengan diri sendiri. Barangkali repotnya mengurus anak membuat pasangan model ini takut tidak bisa menikmati hidup.

Namun, semua itu tidak berlaku bagi orang Batak. Tujuan utama pernikahan Batak adalah mendapatkan anak. Kasarannya, bagi orang Batak, kalau tidak ingin punya anak, kenapa kalian menikah?

Karena menganut sistem patriarki, kelahiran anak laki-laki bagi orang Batak adalah sangat diinginkan. Anak laki-laki adalah penerus silsilah keluarga, karena membawa marga di belakang namanya.

Bahkan, seorang istri yang telah melahirkan seorang anak laki-laki dianggap sudah menunaikan tugas sejarahnya.

Menurut Vergouwen, ahli adat Batak asal Belanda, suami akan sangat beterima kasih kepada istri kalau telah melahirkan anak laki-laki. Suami juga akan semakin menghormati istrinya karena kelahiran sang jagoan.

Istri yang sudah melahirkan anak laki-laki biasa disebut boru naung gabe (perempuan yang sudah diberkati). Penghormatan dan penghargaan selanjutnya akan diperoleh sang istri, bahkan ketika suaminya sudah lebih dulu tutup usia ketimbang dia.

Walau kelahiran anak laki-laki disambut gembira oleh keluarga Batak, bukan berarti kelahiran anak perempuan (boru) dianggap biasa saja. Kelahiran Boru Ni Raja tetap disambut suka cita, terlebih kalau sebelumnya sudah memiliki anak laki-laki.

Dengan mempunyai anak perempuan, keluarga Batak mempunyai kesempatan menjadi hula-hula atau pihak pemberi istri. Hula-hula dalam struktur masyarakat Batak, Dalihan Na Tolu, adalah yang paling tinggi dan dihormati kedudukannya dibanding boru (penerima istri), dan dongan sabutuha (satu marga).

Bahkan, karena begitu tinggi kedudukannya, hula-hula disebut sebagai Tuhan yang terlihat (debata na tarida). (Vergouwen, 1964) Hula-hula dianggap mempunyai kekuatan magis religius untuk menyampaikan pasu-pasu (berkat) atau sahala (kekuatan rohani) pada pihak boru.

Dengan demikan, anak laki-laki maupun perempuan adalah bagian penting dari keluarga Batak. So, bagi pasangan Batak yang sudah menikah, jangan tunda-tunda untuk punya anak ya…