Ternyata Ada ‘Mak Comblang’ Juga dalam Perjodohan Batak

Maruli Simarmata | Rabu, 27 April 2016 20:04:10

Ilustrasi Mak Comblang/makcomblangjelita.blogspot.co.id
Ilustrasi Mak Comblang/makcomblangjelita.blogspot.co.id

Mak Comblang atau perantara pencari jodoh ternyata dikenal juga oleh masyarakat Batak. Disebut dengan istilah ‘domu-domu’, Mak Comblang versi Batak Toba ini menjadi penghubung antara pihak laki-laki dan pihak perempuan.

Namun bedanya, domu-domu merupakan Mak Comblang untuk tahapan serius menuju pernikahan. Bukan seperti Mak Comblang pada umumnya yang sekadar memperkanalkan dua orang yang belum tentu akan serius menuju pelaminan.

Ahli adat Batak dari Belanda, JC Vergouwen, mengatakan domu-domu bisa berperan untuk menyampaikan lamaran pihak laki-laki kepada pihak perempuan.

Uniknya, masing-masing pihak juga mempunyai domu-domu. Biasanya merupakan boru (pihak penerima istri), baik dari keluarga laki-laki maupun keluarga perempuan.

Domu-domu juga sering bertindak sebagai perantara orang tua kedua pihak untuk mencapai persetujuan (padomuhon) dalam hal mas kawin,” tulis Vergouwen dalam buku ‘Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba’ (1986).

Jika seandainya ada perbedaan yang terlalu jauh soal nilai sinamot (mas kawin) yang ditawarkan pihak laki-laki ke pihak perempuan, maka domu-domu akan berusaha mencari jalan tengah agar disetujui oleh kedua belah pihak.

Jika kelihatannya pihak perempuan sudah menyetujui usulan nilai sinamot yang disampaikan, barulah si domu-domu ini menghubungi masing-masing pihak yang diwakilinya.

Setelah mendapat informasi dari domu-domu bahwa nilai sinamot kemungkinan besar disetujui, barulah keluarga keluarga laki-laki akan berkunjung ke rumah keluarga perempuan untuk memastikan nilai mas kawin lewat pembicaraan yang lebih serius (marhata sinamot).

Nah, keberhasilan domu-domu dalam ‘mencomblangi’ dua pihak menuju pernikahan ini juga dihargai. Oleh karenanya, sebagai hadiah atas keberhasilan pekerjaannya, domu-domu diberi upah (upa domu-domu). Upah ini berbentuk uang.

Menurut Vergouwen, upah tersebut adalah wajar mengingat tugas domu-domu bisa menjadi agak pelik, sehingga mereka harus berhati-hati dan teliti dalam melakukan ‘percomblangan’.

“Perantara yang dianggap buruk bisa menimbulkan salah paham dan keributan (guntur) dan dalam hal tertentu perantara juga dapat berurusan dengan pengadilan,” ujar Vergouwen mengenai ada potensi persilisihan kedua belah pihak.

Jadi, kalau Mak Comblang pada umumnya tanpa risiko, domu-domu bisa menanggung risiko jika ada kesalahpamahan antara kedua belah pihak. Kalau begitu, memang jauh lebih enak jadi calon pengantin kan, ketimbang jadi domu-domu...he-he-he