Terlanjur Kawin Lari, Pasangan Batak Toba Harus Lakukan Ini

Coky Simanjuntak | Sabtu, 28 Mei 2016 16:05:53

Ilustrasi kawin lari (mangalua)/blogspot
Ilustrasi kawin lari (mangalua)/blogspot

Tidak bisa dipungkiri kawin lari (mangalua) sudah banyak dilakukan pasangan Batak yang tidak mampu menikah secara adat (mangoli). 

Mangalua jelas menyimpang dari adat Batak Toba. Namun pasangan Batak yang sudah terlanjur melakukannya dan menyesalinya, tetap masih bisa direhabilitasi. 

Caranya dengan menyelenggarakan adat “manuruk-nuruk”, yaitu acara adat mohon maaf kepada keluarga pihak wanita.

Bagi orang Batak Toba yang beragama Kristen, pihak pria (paranak) harus menyiapkan dana untuk membeli seekor anak babi (lomok-lomok) untuk dibawa sebagai sesembahan kepada keluarga pihak wanita (parboru). Bagi yang non-Kristen, bisa menggantinya dengan daging kambing.

Tidak hanya soal sesembahan, pihak pria juga harus membiayai transportasi, uang piso-piso, juga dana untuk hujur panahatan dan pasituak na tonggi.

(BACA: 4 Risiko Ini Wajib Ditanggung Sejoli Batak yang Nekat Kawin Lari)

Permohonan upacara manuruk-nuruk ini biasanya baru disetujui oleh pihak keluarga wanita (hula-hula) setelah 3 bulan atau bahkan 6 bulan setelah kawin lari terjadi. Atau, jika nasib baik menghampiri si pria, acara ini bisa lebih cepat dilakukan.

Acara permohonan maaf ini biasanya juga disebut “patudohon na tinangko” atau memperlihatkan hasil curian. Kenapa disebut curian?

Ya, karena memang si pemilik (hula-hula) tak rela miliknya (putrinya) diambil begitu saja tanpa memenuhi ketentuan adat. 

Jadi ketimbang disebut pencuri, lebih baik sejak awal jangan kawin lari… :)

(Dari berbagai sumber)

SPONSORED
loading...