Tak Mampu Bayar ‘Sinamot', Ini yang Dilakukan Pria Batak Dulu

Ester Napitupulu | Sabtu, 21 Mei 2016 08:05:18

Ilustrasi pusing karena sinamot/pixabay.com
Ilustrasi pusing karena sinamot/pixabay.com

Bagi pria Batak yang kurang mampu, sinamot atau tuhor (mas kawin) adalah hal yang memberatkan. Apalagi, jika keluarga perempuan kurang mengerti keadaan ekonomi calon menantunya.

Namun, pria Batak dahulu punya cara untuk menyiasatinya, yakni dengan sonduk hela atau perkawinan di mana laki-laki tinggal di rumah keluarga istri. 

Hal ini berbeda dengan kebiasaan adat Batak, di mana si perempuan langsung diboyong ke rumah keluarga laki-laki sesudah perkawinan.

Dalam sonduk hela, si pria yang sudah tinggal di rumah keluarga istri itu membayar utang sinamot dengan tenaga dan jasa dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, bekerja di ladang atau usaha lain milik keluarga istri.

Namun, menurut Budayawan Batak, Bungaran Antonius Simanjuntak, cara seperti ini tidak hanya bisa dilakukan sesudah perkawinan, tetapi juga sebelumnya.

“Seorang pemuda belum kawin, tetapi dia sudah tinggal di rumah orangtua gadis dan bekerja untuk mereka, sebagai pembayar sinamot/tuhor,” ujar Bungaran dalam ‘Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba' (2006).

(BACA: 'Mangalua', Kawin Lari untuk Menghindari ‘Sinamot’)

Si pemuda ini akan berhenti bekerja jika kira-kira tenaga yang diberikan sudah seimbang dengan nilai sinamot untuk calon istrinya.

Namun demikian, sinamot bukan satu-satunya alasan para pria Batak melakukan sonduk hela. Alasan lain adalah karena si gadis adalah anak tunggal atau ibu si gadis tinggal seorang diri, sehingga mereka diminta untuk menemani dan merawat.

Ahli Batak dari Belanda, JH Meerwaldt, mengatakan sonduk hela juga biasa dilakukan jika anak suatu keluarga masih kecil-kecil, sehingga keluarga itu mencari seorang laki-laki dari keluarga tidak mampu untuk dikawini dengan putrinya. Maksudnya agar ada tenaga kerja yang menetap di rumah perempuan.

SPONSORED
loading...