Maningkir Tangga

Ester Napitupulu | Sabtu, 16 April 2016 23:04:30

Rumah Bolon/panduanrumah.com
Rumah Bolon/panduanrumah.com

Setelah diberkati secara agama dan adat, Pengantin Batak Toba dulu memulai hidup berumah tangga dengan tinggal satu pekan di rumah orangtua pihak perempuan. Setelahnya, pengantin baru itu baru berangkat ke rumah orangtua pengantin laki-laki untuk seterusnya (patrilokaal) diantar oleh kaum ibu.

Satu pekan kemudian, pihak hula-hula (keluarga perempuan) melakukan upacara maningkir tangga atau ‘melihat tangga’ rumah hela (menantu laki-laki) dan putrinya. Setelah kedatangan hula-hula inilah, maka pengantin baru bebas mengunjungi keluarga istri di luar kunjungan adat. Hal ini dinamakan paulak une.

Upacara maningkir tangga memang dilakukan setelah pesta pernikahan adat, namun menurut Guru Besar Antropologi Universitas Negeri Medan, Bungaran Antonius Simanjuntak, prosesi ini tetap merupakan rangkaian upacara pernikahan.

“Sebab selama hula-hula belum datang maningkir tangga, kedua pengantin tidak boleh pergi ke rumah pihak istri atau ke kampung asal istri,” kata Prof Bungaran dalam bukunya ‘Struktur Sosial dan Struktur Politik Batak Toba Hingga 1945’ (2006).

Seiring perkembangan zaman, upacara maningkir tangga ini sudah dimodifikasi. Kebanyakan sekarang, pelaksanaan upacara maningkir tangga, paulak une maupun marune (berangkat ke rumah laki-laki langsung dari pesta pernikahan) sudah disatukan selama satu hari di dalam gedung pesta (ulaon sadari).

Menurut Prof Bungaran, perubahan atau modifikasi itu terjadi karena semakin timbul kesadaran halak hita bahwa pesta proses itu menghabiskan banyak waktu dan biaya.

Bagi mereka yang tinggal di perantauan, misalnya Jakarta, dan ingin menikah di Bonapasogit, mau tidak mau upacara pernikahan dilakukan secara cepat dan singkat, karena dia harus kembali ke ibukota untuk bekerja.

“Karena itu seluruh unsur-unsur adat perkawinan tidak dapat dituruti lagi,” ujar Ompung Bungaran.